Wajah Politik Arab Pra-Islam

Wajah Politik Arab Pra-Islam

Tugas Ini Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Ulangan Tengah Semester

 Mata Kuliah

METODOLOGI STUDI ISLAM

Dosen Pengampu: M. Nasrudin, M.H.

 

 

Disusun Oleh:

RIZKI ANJARWATI          1602100180

Program Studi S1 Perbankan Syariah

Kelas A

Semester 1

 

 

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGRI

(STAIN) JURAI SIWO METRO

TAHUN 2016/2017

 

WAJAH POLITIK ARAB PRA-ISLAM

            Jazirah arab sebelum islam diapit 3 kerajaan besar, kerajaan Romawi, Persia dan Abessinia. Ketiganya secara silih berganti menguasai dunia Arab, sehingga dengan sendirinya kehidupan politik di dunia Arab banyak dipengaruhi oleh ketiga kerajaan besar tersebut. Keberadaan yang demikian ini membuat bangsa Arab pada saat itu tidak memiliki kekuatan dan kekuasaan politis secara mandiri, dalam arti pemerintahan pusat yang besar (Mahfud, 2011 : 195). Kekuasaan politik berada pada kepala suku yang ada, yang sering terjadi pertentangan peperangan diatara mereka dan sering pula dimanfaatkan oleh kekuatan besar(diadu domba) untuk menanamkan pengaruh atau kekuasaan mereka masing-masing. (Abu Bakar, 2008 : 3)

Karena situasi politik yang demikian maka ketika Nabi Muhammad datang dengan misi pembaharuan, mereka tidak dapat memberikan perlawanan yang berarti, sebab sewaktu ada Kabilah yang menentangnnya, dengan mudah Nabi Muhammad SAW segera mendapat bantuan dari kabilah lainnya yang menjadi musuh kabilah yang memusuhi Nabi Muhammad SAW tersebut. Keadaan demikian ternyata merupakan kondisi yang menguntungkan bagi pembentukan kekuatan politik yang kemudian mampu mempersekutukan bangsa Arab, yang semula saling bermusuhan antara kabilah-kabilahnya, menjadi suata satu kesatuan politik dan budaya islam yang dibina oleh Nabi Muhammd SAW yang akhirnya mempermudah terjadinya kontak budaya dengan bangsa-bangsa di sekitarnya dan kemudia dengan lancar menyebar keseluruh penjuru dunia. (Fadil, 2008: 90)

Berbicara mengenai pemerintahan dikalangan bangsa arab sebelum islam terbukti dengan adanya kerajaan-kerajaan seperti berikut yaitu (Abu Bakar, 2008 : 4)

 

  1. Arab Baidah

Mereka mendirikan kerajaan Aad, kaum tsamut dan kerajaan alambath(amaqilah). Data pendukungnya disinyalir sangat sulit ditemukan. Daerah kekuasaan meliputi Irak, Siria, India dan Mesir.

  1. Arab Aribbah yang sering disebut Qataniyah

Kerajaan yang didirikan berada di Yaman yaitu kerajaan Mainiyah, Sabaiyah(610-115 SM) yang terkenal dengan bendungan marib (sad al-marib) dan Himiyariyah yang indentik dengan peperangan dan perluasan wilayah.

  1. Arab Musta’rabah yang berpusat di Mekah dan Yatrsib

Kerajaan yang ada pada periode ini adalah kerajaan Gasaniah yang merupakan Buffer State nya Romawi dan menjadikan agama Kristen sebagai agama resminya. Sedangkan Hirah merupakan Buffer State nya Persia yang pada perkembangannya selanjutnya diambil alih oleh orang Persia.

Namun dalam referensi lain dikatakan, bahwa keadaan politik sebelum islam bisa dibagi menjadi 3 (Abu Bakar, 2008 : 5) yaitu sebagai berikut :

  1. Kabilah Badui (Pedalaman)

Merupakan Kabilah yang hidupnya terpencar-pencar dan diikat oleh ikatan darah dan fanatisme. Dalam keadaan ini, tidak ada kerajaan karena adanya ketidak tundukan antara satu kabilah dengan kabilah lainnya.

  1. Kerajaan Kindah ( 480-529)

Pendirinya adalah Hajar Akil al-Mirar, mereka tunduk dibawah kerajaan Himyar.

  1. Kerajaan diperkotaan yang terletak di 3 kawasan yaitu Yaman wilayah utara dan Hijaz.

Kerajaan-kerajaan diatas secara umum dapat dikatakan dalam kondisi politik yang labil dimana satu sama lain selalu disibukkan untuk mempertahankan diri atau memperluas kekuasaan. Hal ini dipertegas dengan pernyataan Karn Amrstrong bahwa seluruh Arab dalam kondisi memiliki hukum sendiri dan dalam keadaan selalu berperang dengan kelompok suku lainnya. (Abu Bakar, 2008 : 6)

 

Catatan

  1. Lumayan menjelaskan fenomena
  2. Tidak mencantumkan referensi
  3. Plagiasi 26%

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *