Wajah Kebudayaan Arab Pra-Islam

TUGAS ULANGAN TENGAH SEMESTER (UTS)
METODOLOGI STUDI ISLAM
“WAJAH KEBUDAYAAN ARAB PRA-ISLAM”

DOSEN PENGAMPU: M. Nasrudin, SHI. MH

DISUSUN OLEH:

SYAFRI BASTIAN 1602100195

PROGRAM STUDI PERBANKAN SYARIAH (A)
JURUSAN SYARIAH DAN EKONOMI ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
(IAIN) KOTA METRO
1438 H/2016 M

WAJAH KEBUDAYAAN ARAB PRA-ISLAM

Masyarakat Arab pra Islam, baik yang nomadik maupun yang menetap, hidup dalam kesukuan Badui. Mereka sudah mampu membentuk atau memiliki sistem organisasi dan identitas sosial yang berakar pada keanggotaan pada suatu rentang komunitas yang luas. Sebagai contoh yaitu beberapa kelompok keluarga membentuk Kabilah, kemudian beberapa kelompok Kabilah membentuk suatu suku (tribe) yang dipimpin oleh Syekh. Dalam hal ini mereka sangat menekankan hubungan kesukuan, kesetiaan atau solidaritas kelompok sangat tinggi dan menjadi sumber kekuatan bagi suatu Kabilah atau suku. Situasi ini terus berlangsung sampai agama Islam lahir. Di satu sisi kebudayaan yang lain, kelebihan bangsa Arab adalah terletak pada bahasanya. Bahasa Arab merupakan salah satu bahasa rumpun semit yang paling sempurna dan mampu bertahan dari seleksi alam hingga Islam datang.

Kebudayaan Arab pada saat itu adalah warisan yang diturunkan oleh leluhurnya terdahulu. Dari generasi ke generasi, kebudayaan itu berkembang turun-temurun, yang kebanyakan dari kebudayaan-kebudayaan bangsa Arab adalah yang dianggap tidak manusiawi. Bangsa Arab pra Islam, identik dengan bangsa Jahiliyah. Bangsa Jahiliyah dianggap sebagai bangsa yang terbelakang dan tidak manusiawi. Istilah Jahiliyah, biasanya diartikan sebagai masa kebodohan atau kehidupan barbar. Namun sebenarnya, yang dimaksud Jahiliyah adalah bahwa ketika itu orang-orang Arab tidak memiliki otoritas hukum, nabi dan kitab suci (Hitti:2002, 10).

Pada masa itu, kaum wanita memiliki posisi yang paling jelek dibanding wanita lain didunia ketika itu. Mereka dianggap sebagai benda mati yang tidak mempunyai hak apapun, termasuk hak untuk dihormati. Bila seorang Ayah diberi tahu bahwa anaknya yang lahir seorang wanita, Dia akan sedih bercampur marah. Kadang-kadang bayi wanita itu dikubur hidup-hidup. Kehidupan yang keras dan menantang mendorong mereka untuk memiliki anak laki-laki saja (Nasution:2013, 26).

Anak perempuan akan mengurangi pengaruh Kabilahnya dalam percaturan dunia, penghambat pembangunan, kurang bisa mandiri dan menggantungkan pada laki-laki, dan itu semua adalah aib bagi mereka. Maka kekurangan itu harus ditutupi dan kalau perlu dibuang. Anak laki-laki juga akan dibunuh jika dinilai mempunyai watak penakut dan pengecut. Mereka dipandang tidak akan sanggup dan berani membela kehormatan dan harga dirinya sendiri serta nama baik keluarganya atau Kabilahnya (Ismail:1984, 5).

Bangsa Arab sebenarnya sangat materialistik, berpandangan sempit dan berperasaan beku, tetapi terlampau peka bila kehormatan, nama baik dan kebebasannya tersinggung. Mereka dermawan terhadap tamu-tamunya dan sangat setia kepada Kabilahnya. Mereka membangga-banggakan adat istiadatnya sendiri dan mengagung-agungkan bahasa serta kesusastraannya (Ismail:1984, 5).

Dalam bidang kebudayaannya, bangsa Arab terkenal dengan kefasihan lidahnya. Ciri khas manusia ideal bangsa Arab, adalah “kefasihan lidah, pengetahuan tentang senjata dan kemahiran menunggang kuda”. Maka tidak mengherankan bila seni sastra, terutama puisi sangat berkembang pesat di kala itu.

Para penyair memiliki kedudukan terhormat dikalangan sukunya. Betapa besarnya peranan yang diemban para penyair, sejarah bangsa Arab dapat diketahui melalui puisi-puisi mereka. Oleh karena itu, para penyair selain pemberi nasehat dan juru bicara sukunya, mereka juga adalah ahli sejarah dan intelektual sukunya. Mereka senang berkumpul mengelilingi para penyair untuk mendengarkan syair-syair mereka, sehingga ada beberapa pasar tempat berkumpul para penyair, yaitu pasar ‘Ukaz, pasar Majinnah, dan pasar Zul Majaz. Di pasar-pasar itu para penyair memperdengarkan syairnya dengan dikelilingi oleh warga sukunya dan bahkan mereka memperlombakan syair-syair kemudian dipilih diantara syair-syair itu yang terbagus untuk digantungkan di Ka’bah dekat dengan patung pujaan mereka (Nasution:2013, 27).

Bila ada dalam satu Kafilah mucul seorang penyair, maka berdatanganlah Kafilah-Kafilah lainnya mengucapkan selamat kepada Kafilah tersebut. Kafilah itu mengadakan jamuan makan dengan menyembelih binatang-binatang dalam pesta itu wanita-wanita keluar bermain musik dan bernyanyi (Nasution:2013, 27).

DAFTAR PUSTAKA

Ismail, Faisal, Sejarah dan Kebudayaan Islam dari Zaman Permulaan hingga Zaman Khulafaurrasyidin, Yogyakarta: CV. Bina Usaha , 1984.
K. Hitti, Philip, History of The Arabs, New York: Palgrave Macmillan, 2002.
Nasution, Syamruddin, Sejarah Peradaban Islam, Riau: Yayasan Pusaka Riau, 2013.

 

Catatan dosen

  1. Tema sudah masuk. isi juga sudah.
  2. Tulisan sudah lumayan.
  3. plagiasi ada 31%

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *