Sumber Ajaran Islam: Al-Hadits

Nama : Tetania Saputri

NPM : 1602100072

Prodi : S1-PBS

Kelas : B

Semester 1

Sumber Ajaran Islam Al-Hadits

Di dalam buku Ulumul Hadis Allah SWT mengatakan bahwa firman-Nya sebagai hadis, dan makna ini dapat dimaknai sebagai makna lughowi. Pengertian umum kata hadis itu sama kuatnya ajaran Islam. Kata hadis kemudian digunakan secara khusus untuk menunjukkan salah satu jenis info (ikhbar) dalam agama, dengan tanpa meninggalkan maknanya yang umum. Sementara itu jumhur ulama hadis sunni memasukan hadis mauquf (yang bersumber dari sahabat) dan maqthu’ (bersumber dari tabi’in) dalam katagori hadis. Karena itu istilah sunnah lebih umum dari pada hadis. Berbeda dengan ahli hadis, ulama ushul fiqih justru mengartikan lebih sempit. Menurut mereka hadis adalah perkataan, perbuatan, ataupun persetujuan Nabi SAW. Ada pula yan menyebutkan jika digunakan kata hadis, maka dalam persepsi ulama fiqih, maksudnya adalah sunnah qauliyyah (perkataan). (Smeer, 2008: 2-4)

Mengutip dalam buku Studi Hadis, menyatakan bahwa hadis merupakan sinonim dari sunnah, namun hadis umumnya digunakan untuk istilah segala sesuatu yang diriwayatkan dari Rasulullah setelah diutus jadi Nabi (bi’tsah). Sebagian ulama berpendapat bahwa hadis hanya terbatas ucapan dan perbuatan Nabi saja, sedang persetujuan dan sifat-sifatnya tidak termasuk hadis karena keduanya merupakan ucapan dan perbuatan sahabat. Selain itu, hadis juga digunakan untuk sesuatu yang disandarkan kepada Allah yang dikenal dengan hadis qudsi, yaitu hadis yang disandarkan oleh Nabi kepada Allah. Disebut hadis karena berasal dari Rasulullah dan dikatakan qudsi sebab disandarkan kepada Allah. (Indri, 2013: 6-7)

Seluruh umat islam tanpa terkecuali, telah sepakat bahwa hadis merupakan salah satu sumber ajaran islam. Kewajiban mengikuti hadis bagi umat Islam sama wajibnya dengan mengikuti Al-Quran. Tanpa memahami dan menguasai hadis, siapa pun tidak bisa memahami Al-Quran. Sebaliknya, siapa pun tidak akan bisa memahami hadis tanpa memahami Al-Quran karena Al-Quran merupakan dasar hukum pertama, yang di dalamnya berisi garis besar syariat, dan hadis merupakan dasar hukum kedua, yang di dalamnya berisi penjelasan Al-Quran. Kesimpulannya bahwa hadis dan Al-Quran memiliki kaitan yang sangat erat, dan tidak bisa dipisah-pisah atau berjalan sendiri-sendiri. (Solahudin dan Suyadi, 2009: 72)

Ada pengertian Hadits secara Etimogis dan Terminologis. Secara Etimologis kata hadis berasal dari bahasa Arab dan memiliki banyak arti, diantaranya al-jadid (yang baru) lawan dari al-qadim (yang lama), dan al-khabar (kabar atau berita). Sedangkan secara Terminologis, para ulama merumuskan pengertian hadis secara berbeda-beda. Perbedaan itu disebabkan karena terbatas dan luasnya objek tinjauan, yang pasti mengandung kecendrungan pada aliran ilmu yang didalaminya. Kemudian melahirkan dua macam pengertian hadis yaitu, pengertian hadis secara terbatas, dan secara luas. Dengan demikian, menurut ulama hadis, esensi hadis adalah segala berita yang berkenaan dengan sabda, perbuatan, taqrir, dan hal ikhwal Nabi Muhammad SAW. Yang dimaksud dengan ikhwal adalah segala sifat dan keadaan pribadi Nabi SAW. Hal ini karena para ulama berbeda dalam meninjau objek hadis itu sendiri. (Solahudin dan Suyadi, 2009: 13-17)

Dalam buku yang dibuat Dr. Nurudin ‘Itr, ada hadis yang bisa diterima dan ada hadis yang tidak bisa diterima. Hadis yang dapat diterima (Al-Hadits Al-Maqbul) terdiri dari: pertama hadis shahih yaitu hadis yang telah diakui dan disepakati kebenarannya oleh para ahli hadis. Yang kedua yaitu Hadis Hasan adalah hadis yang bersambung sanadnya, diriwayatkan oleh rawi yang adil, yang rendah tingkat kekuatan daya hafalnya, tidak rancu atau tidak cacat. Yang ketiga Hadis Shahih Lighairihi yaitu hadis shahih yang mencapai tingkat kesahihan dengan sendirinya tanpa dukungan hadis lain yang menguatkannya. Dan yang terakhir Hadis Hasan Lighairihi adalah suatu hadis yang meningkat kualitasnya menjadi hadis hasan karena diperkuat oleh hadis lain.

Sedangkan hadis yang tidak dapat diterima atau ditolak yaitu yang pertama Hadis Dhaif adis yang kehilangan salah satu syaratnya sebagai hadis makbul (yang dapat diterima). Yang kedua Hadis Mudha’af adalah hadis yang tidak disepakati kedhaifannya, melainkan dinilai dhaif oleh sebagian ulama yang dinilai kuat oleh sebagian yang ain, baik dari segi matannya maupun dari segi sanadnya. Yang ketiga hadis Matruk adalah hadis yang diriwayatkan oleh rawi yang dusta dan hadis itu ttidak diketahui kecuali hanya melalui jalannya, selain itu ia menyalahi kaidah-kaidah yang telah maklum. Yang keempat yaitu Hadis Mathruh adalah hadis yang lebih rendah daripada hadis hadis dhaif dan lebih tinggi dari maudhu. Dan yang terakhir adalah Hadis Maudhu’ adalah hadis yang diada-adakan dan dibuat-buat. Dengan demikian, ketetapan dalam menerima dan menolak hadis itu sangat rinci dengan menentukan keriteria dan hukum masing-masing hadis. (‘Itr, 2012: 240-308)

Daftar Pustaka

Indri. 2013. “Studi Hadis”. Jakarta: Kencana Media Group.
Sholahudin, M. Dan Agus Suryadi. 2011. “Ulumul Hadis”. Bandung: Pustaka Setia.
Smeer, Zeid B.. 2008. “Ulumul Hadis Pengantar Studi Hadis Praktis”.Malang: UIN-Malang Press (Anggota IKAPI).
‘Itr, Nuruddin. 2012. “Manhaj An-Naqd Fii ‘Uluum Al-Hadits”. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

 

Catatan

  1. Tulisan sudah sesuai tema.
  2. Elaborasi masih agak kaku tapi sudah bagus.
  3. Plagiasi hanya 23%

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *