Sejarah Pemikiran Agama: Dinamisme

Dinamisme berasal dari bahasa Yunani dynamis yang dalam bahasa Indonesia disebut kekuatan. Bagi manusia primitif yang tingkat kebudayaannya masih rendah sekali, setiap benda yang berada di sekelilingnya bisa mempunyai kekuatan batin yang misterius. Masyarakat yang masih primitif memberi berbagai nama pada kekuatan batin yang misterius ini. Orang Melanesia menyebutnya “mana”, orang Jepang “kami”,orang India “hari”, ”shakti”, orang Pigmi di Afrika “oudah” dan orang Indian Amerika “wakan”, “orenda”, dan “maniti”. Dalam ilmu sejarah agama dan ilmu perbandingan agama,kekutan batin ini biasanya disebut “mana”. Dalam bahasa indonesia “tuah”.

                Mana atau kekuatan mempunyai lima sifat:

  1. Mana mempunyai kekuatan.
  2. Mana tak dapat dilihat.
  3. Mana tidak mempunyai tempat yang tepat.
  4. Mana pada dasarnya tidak mesti baik dan pula tidak buruk.
  5. Mana terkadang dapat dikontrol terkadang tidak dapat do kontrol.

 

Dengan demikian mana atau kekuatan adalah suatu kekuatan yang tidak dilihat, suatu kekuatan gaib, suatu kekuatan mistterius, yang dilihat hanyalah efeknya. Mana tidaklah seperti tenaga yang terdapat dilistrik, kekuatan itu idak kelihatan, hanya efeknya yang kelihatan dalam gerakan. Mana terdapat dalam segala apa yang mempunyai efek besar, efek yang menarik perhatian. Mana yang dapat dikontrol dan mana yang membawa bahaya bgai manusia harus dijauhi, tidak boleh didekati dan tidak boleh disentuh. Hanya dukun atau ahli sihir yang boleh mendekati dan menyentuh benda yang mempunyai kekuatan yang berbahaya. Bagi orang yang biasa kekuatan itu adalah tabu (pantang). Kalau didekati atau disentuh ia akan membawa bahaya besar.

Agama dinamisme mengajarkan kepada pemeluknya supaya memperoleh mana yang baik sebanyak-banyaknya dan menjauhi mana atau kekuatan yang jahat. (Harun Nasution:2003.23)

 

 

Tidak hanya ajaran dinamisme yang masih mempercayai kekuatan gaib, namun ajaran animisme juga masih memepercayai tentang kekuatan gaib. Contohnya saja tentang roh, dalam ajaran animisme roh itu menjuru kesegala arah tanpa adanya tujuan yang jelas. Masyarakan arab kuno masih mempercayai kalau roh manusia yang mati di tempat tidur pasti perginya lewat lubang hidung. Dan dalam ajaran animisme roh yang dimaksud tadi bisa saja marah atau terusik dengan kegiatan manusia, cara agar roh tersebut tidak marah yakni memberikan sesajian berupa makanan atau memberi kurban terhadap roh tersebut. (Amsal Bakhtiar:2009.62)

 

Namun hanya pada ajaran animisme saja yang mempercayai tentang roh, dalam ajaran dinamisme hanya mempercayai bahwa benda-benda yang ada di sekelilingnya itu memiliki kekuatan gaib. Animisme dan dinamisme sudah ada sebelum ajaran islam masuk kedalam nusantara, ajaran animisme dan dinamisme adalah ajaran yang menyeleweng dari ajaran Allah. Di nusantara masih banyak sisa-sisa ajaran animisme ataupun dinamisme seperti :

  1. Upacara dan ritual adat

Kegiatan ini cenderung terhadap upacara kematian atau kelahiran. Contohnya: di aceh terdapat upacara peugot tangkai, upacara ini pembacaan mantra terhadap sebuah benda yang akan di pakai oleh perempuan yang sedang hamil 4bulan.

  1. Kesenian budaya

Sisa-sisa kesenian yang terdapat di nusantara hasil ajaran animisme dan dinamisme adalah kuda lumping, karena biasa nya kesenian kuda lumping sebelum memulai pertunjukan pasti dibacakan mantra-mantra terlebih dahulu. Dan saat acara dimulai maka mulailah para penari kesurupan oleh roh-roh yang dibacakan mantra tadi, tidak hanya kesurupan namun ada yang memakan pcahan kaca, ataupun beberapa memakan ayam yang masih hidup.

Penari-penari kuda lumping itu telah dimasuki oleh roh (jin) sehingga dapat melakukan hal yang seperti itu.

  1. Mitos

Mitosmerupakan cerita-cerita yang menyesatkan. Karena didalam mitos masih terdapat kepercayaan terhadap hal-hal yang gaib. Contohnya saja mitos bulan safar yang membawa sial. Mitos ini sangat terkenal di dalam kalangan masyarakat muslim.

(Dedi Supriyadi:2012.84)

 

 

RUJUKAN

 

Nasution, Harun. 2003. Filsafat Agama. Jakarta: PT Bulan Bintang

 

Supriyadi, Dedi dan Mustofa Hasan. 2012. Filsafat Agama. Bandung: Cv Pustaka Setia

 

Bakhtiar, Amsal. 2012. Filsafat Agama Wisata Pemikiran dan Kepercayaan Manusia. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada

 

 

NOVIA RATU MEGA

 

1602100051   

 

Mahasiswi Semester 1 Kelas B Prodi S1

 

Perbankan Syariah IAIN Metro

 

 

Catatan

  1. Plagiasi 4%
  2. Sudah menjawab pertanyaan

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *