Sejarah Pemikiran Agama (3) Politheisme

Politeisme adalah paham yang dasarnya muncul dari paham animisme yang berkeyakinan akan kekuatan roh gaib. Paham politeisme membuat kepercayaan yang bersifat berbagai kekuatan gaib yang dijadikan sebagai Tuhan. Masyarakat politeisme menganut kepercayaan yang tidak lagi langsung pada benda, tetapi bersifat abstrak atau fungsi benda yang disembah dan ditakuti. Sebab itu, paham politeisme memunculkan kepercayaan pada berbagai dewa sesuai dengan fungsi atau tugasnya. Dewa yang di percayai oleh masyarakat politeisme lebih sedikit jumlahnya dibanding roh-roh yang disembah pada paham animisme. Dalam paham politeisme, fungsi dan sifat dari dewa lebih jelas dibanding pada roh-roh dalam paham animisme (Hasan: 2012, 86-88).

Pada awalnya, dewa-dewa yang ada di paham politeisme mempunyai kedudukan yang hampir sama, tetapi karena beberapa hal lama-kelamaan beberapa di antara dewa-dewa itu mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dari yang lain. Paham politeisme memberi kedudukan tertinggi pada satu atau tiga dewa, tidak berarti dewa-dewa yang lain tidak dianggap lagi. Dewa-dewa itu tetap dianggap, hanya saja tidak dimuliakan setinggi kemuliaan yang diberikan dewa-dewa yang kedudukannya lebih tinggi.

Dalam paham politeisme terdapat beberapa problem yaitu problem yang bersifat pertentangan tugas antara dewa satu dengan dewa yang lain. Karena, dewa-dewa yang seperti itu tidak selamanya melakukan kerja sama. Misalnya, dewa kemarau dapat bertentangan dengan dewa hujan. Oleh karena itu, jika seseorang politeis meminta hujan misalnya, dia tidak hanya berdoa kepada dewa hujan saja, supaya dewa hujan menurunkan hujan. Dia juga harus berdoa kepada dewa kemarau juga, supaya dewa kemarau jangan menghalangi tugas dewa hujan untuk menurunkan hujan (Nasution: 1973, 30-31).

Problem yang timbul ketika muncul suatu ketidakadilan seperti bencana besar di dunia. Penganut politeis akan kebingungan kemana mereka harus mengadu dan meminta keadilan, karena di atas sana banyak dewa-dewa yang sama-sama berkuasa. Contohnya, ketika terjadi gempa bumi maka dewa-dewa tidak dapat disalahkan, sebab itu semua bagian dari perbuatan mereka. Dewa bumi berhak menggerakan bagian tubuhnya yang mengakibatkan terjadi gempa di beberapa wilayah (Bakhtiar: 2007, 70).

Paham politeisme ialah penyembah banyak Tuhan. Perbedaan antara seorang politeis dengan seorang monoteis bukan karena pada paham satu dan banyaknya Tuhan, tetapi terletak juga pada bentuk dan sifat kepercayaan masing-masing. Seseorang politeis dengan hal demikian berkata: “Oh dewa-dewa baru sudah muncul!”. Dalam masyarakat politeisme sesuatu yang bersifat misterius langsung dianggap dewa. Orang-orang politeis yang bekerja di pabrik, ada yang menyembah mesin, sedangkan mahasiswa-mahasiswanya ada juga yang menyembah alat yang dipakainya dalam laboratorium (Nasution: 1973, 31).

Penganut politeis sering mengalami kesulitan-kesulitan seperti itu, masyarakat yang berpikir lebih maju mencari solusi yang lebih menyeluruh. Mereka berusaha mencari keyakinan yang dapat mencegah terjadinya pertentangan dalam dirinya. Kepercayaan kepada satu dewa/Tuhan (henoteisme/monoteisme) dapat menyelesaikan persoalan tersebut. Solusi yang pas yaitu kepercayaan kepada satu Tuhan secara otomatis menghilangkan kekuasaan dewa-dewa yang sama-sama berkuasa. Aturan yang ada di dunia dibuat pada satu sumber, sehingga tidak mungkin terjadi pertentangan antara satu aturan dengan aturan lainnya.

Penjelasan di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwa ada suatu urutan yang logis dari perkembangan sistem kepercayaan manusia. Mulai dari percaya pada benda yang memiliki kekuatan gaib, kemudian benda itu memiliki roh, roh bermacam-macam yang paling tertinggi disembah. Penyembahan pada roh meningkat kemudian menjadi dewa, di antara dewa-dewa ada yang paling dimuliakan. Urutan yang seperti itu menggambarkan perkembangan pemikiran manusia dari percaya kepada benda, berubah menjadi berbagai fungsi, dan akhirnya terbatas akan beberapa fungsi saja (Bakhtiar: 2007, 71).

 

 

RUJUKAN

 

Supriyadi Dedi, Hasan Mustofa. Filsafat Agama. Bandung: Pustaka Setia. 2012

Nasution Harun. Filsafat Agama. Jakarta: Bulan Bintang. 1973

Bakhtiar Amsal. Filsafat Agama. Jakarta: Rajagrafindo Persada. 2007

 

PUTRI HANDAYANI

1602100169

Mahasiswi Semester 1 Kelas B Prodi S1

Perbankan Syari’ah IAIN Metro

 

Catatan

  1. Plagiasi 0%
  2. Sudah menjawab pertanyaan.

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *