Pola Studi Islam

POLA STUDI ISLAM NORMATIF DAN HISTORIS

A. ISLAM NORMATIF
Normatif berarti ketentuan suatu masalah yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan (Abudin Nata:2012,34). kajian, acuan atau ajaran islam dengan tujuan untuk mempermudah merespon perkembangan guna sebagai kontributor awal untuk pertumbuhan ilmu islam, maksudnya yaitu suatu ajaran pokok yang masih asli berasal dari tuhan dan belum terdapat penalaran manusia di dalamnya (Jacques Waardenburg:1973,13).

Islam normatif juga sering disebut realita ketuhanan artinya islam ideal atau islam sebenarnya yang bentuknya ada dalam al-Qur’an dan Hadits yang kebenaran absolutnya tidak dipermasalahkan karena dokrin dokrin yang berasal dari ilahi yang mempunyai nilai kebenaran absolut, mutlak diyakini sebagai sesuatu yang suci (Muhaimin:2007,14).

Secara umum ada dua teori yang digunakan untuk pedekatan normatif yaitu teori yang pertama adalah hal hal yang bertujuan untuk mengetahui suatu kebenaran yang nantinya dapatdibuktikan secara empirik dan eksperimental seperti masalah yang berhubungan dengan penalaran. Sedangankan masalah masalah yang bukan berhubungan dengan emprik seperti hal ghaib biasanya diusahakan melakukan pembuktiannya dengan mendahulukan kepercayaan. Akan tetapi karena sulit untuk membedaakan hal hal yang bersifat emprik atau bukan kedalam klasifikasinya sehingga terjadi perbedaan penalaran sehingga menyebabkan perbedaan pendapat dikalangan para ahli. Sehingga sikap yang harus kita lakukan dalam pendekatan normatif adalah sikap kritis (Ali Anwar Yusuf:2003,56)

Seluruh konstruksi dan formulasi yang ada dalam ilmu ilmu keislaman, seperti ilmu kalam, fiqih, filsafat dan tasawuf merupakan hasil kajian dari islam normatif (Muhammad Amin Abdullah:2006,28).

B. ISLAM HISTORI
Historis berarti sejarah atau pengalaman masa lampau dari umat manusia (Zuhairin:2010,1) yang didalamnya dibahas berbagai peristiwa dengan memperhatikan unsur unsur seperti unsur tempat, waktu objek, latar belakang, dan pelaku dari peristiwa tersebut (Abuddin Nata:2012,45)

Kajian atau pemikiran yang digunakaan untuk mempermudah melihat dan membuat rekonstruksi masa lampau secara sistematis dan obyektif, yaitu dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti mengumpulkan, mengevaluasi, memverifikasi serta mensintetiskan bukti bukti untuk menegakkan fakta dari sesuatu yang dikaji atau diteliti guna memperoleh kesimpulan kesimpulan yang kuat dari sesuatu yang dikaji (Mohammad Musa:1988,8). Dengan kata lain islam historis adalah islam riil dan sesuai kenyataanya (Syarif Hidayatullah:2011,62)

Jika kita tinjau berdasarkan perkembangannya manusia adalah makhluk historis karena manusia selalu berkembang berdasarkan pengalaman dan pikirannya yang diiringi dengan berkembangnya lingkungan zamannya (Mohammad Musa:1988,92)

Ada pula yang menyimpulkan dengan dilakukannya penelitian secara lebih dalam untuk menciptakan suatu kebenaran yang utuh, objek juga dapat dilihat dengan cara berinteraksi dengan seluruh kenyataan objek tersebut (Surajiyo:2007,92) yaitu dapat dilakukan dengan keterpengaruhan seseorang tokoh dan pemikirannya dengan zaman dan lingkungannya serta berempati dengan sesuatu yang diteliti (Syahrin Harahap:2011,36)

Melalui metode historis ini manusia tidak akan mempelajari agama keluar dari konteks historisnya karena jika pemahaman itu keluar konteks maka seseorang akan tersesatkan jika memahaminya. Misal jika kita ingin mempelajari al-Qur’an maka kita harus mempelajari sejarah turunnya al-Qur’an atau kejadian kejadian yang mengiringi turunnya al-Qur’an secara benar dahulu lalu setelah itu kita dapat mengkaji isi dari al-Qur’an itu sendiri (Abuddin Nata:2012,48)

C. PERBEDAAN ISLAM NORMATIF DAN HISTORIS
Perbedaan antara islam yang “normatif” dan “historis” secara garis besar perbedaanya yaitu seperti saat kita mempertahankan aspek aspek agama islam dengan sekuat tenaga sementara tetap bersifat kritis terhadap sesuatu yang berkaitan dengan perkembangan kesejarahannya (Muhammad Amin Abdullah:2006,28-29).

Pendekatan normatif disatu sisi merupakan pendekatan yang selalu berlandaskan atau berpijak pada teks tertulis dalam kitab suci masing masing agama sedangkan pendekatan historis melihat kitab suci dan fenomena keagamaan melalui sudut pandang keilmuan sosial keagamaan yang bersifat multi dimensional (Syarif Hidayatullah:2011,62).

 

Catatan.

  1. Sudah menjawab pertanyaan
  2. Plagiasi 0%
  3. Referensi belum tercantum

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *