Perbedaan antara Budaya Arab dan Islam

NAMA: TIARA NURVIANTI

NPM: 1602100074

PRODI/KELAS: S1 PERBANKAN SYARI’AH/A (SEMESTER 1) IAIN METRO

UTS METODOLOGI STUDI ISLAM

 

PERBEDAAN ANTARA BUDAYA ARAB DAN ISLAM

  1. Kebudayaan Arab

Bangsa Arab mempunyai berbagai macam kebudayaan, adat istiadat dan peraturan hidup. Bangsa Arab terbagi atas dua bagian, yaitu:penduduk gurun pasir dan penduduk negeri.

Bangsa Arab penduduk padang pasir itu terdiri atas berbagai macam suku bangsa yang selalu berperang-perangan.Peperangan itu menghabiskan banyak waktu dan tenaga sehingga penduduk gurun pasir tidak mempunyai waktu dan kesempatan lagi untuk memikirkan kebudayaan. Dan jika di antara mereka dapat bekerja, mencipta, dan menegakkan suatu kebudayaan, datanglah orang lain yang memerangi dan meruntuhkannya.Bahasa mereka juga terpelihara karena gurun Arab tidak pernah ditempuh oleh bangsa asing. Oleh karena itu bahasa mereka tetap murni dan terpelihara.

Karena bahasa mereka masih murni dan terpelihara dari segala macam kerusakan, maka padang pasir itu dijadikan sekolah tempat mempelajari dan menerima bahasa Arab yang fasih , di kala bahasa Arab itu telah mengalami kerusakan di kota-kota dan negeri (Syalabi, 2003:31).

Adapun sejarah bangsa Arab penduduk negeri, adalah lebih jelas. Negeri-negeri mereka ialah: Jazirah Arab bagian selatan, kerajaan Hirah dan Ghassan, dan beberapa kota di tanah Hejaz. Jazirah Arab itu terdiri atas dua bagian yaitu bagian tengah dan bagian tepi. Bagian tengah terdiri dari tanah pegunungan yang amat jarang dituruni hujan. Penduduknya pun sedikit sekali, yaitu terdiri dari kaum pengembara yang selalu berpindah-pindah tempat, menuruti turunnya hujan, dan mencari padang-padang yang ditumbuhi rumput tempat mengembalakan binatang ternak.

Adapun pada jazirah Arab bagian tepi bisa dikatakan hujan turun dengan teratur. Oleh karena itu penduduknya tiada mengembara, melainkan menetap di tempatnya dan mereka pula sempat membina berbagai kebudayaan.

  1. Kondisi Kebudayaan Arab di Bidang Sasta

Masyarakat Arabia sangat terkenal dengan kemahirannya dalam bidang sastra: bahasa dan syair.

Syair adalah salah satu seni yang paling indah yang amat dihargai dan dimuliakan oleh bangsa Arab. Mereka amat gemar berkumpul mengelilingi penyair-penyair, untuk  mendengarkan syair-syair mereka, sebagai orang zaman sekarang beramai-ramai mengelilingi penyair atau pemain musik yang mahir, untuk mendengarkan permainnnya (Syalabi, 2003:51).

Kemajuan kebudayaan mereka dalam bidang syair tidak diwarnai dengan semangat kebangsaan Arab, melainkan diwarnai oleh semangat kesukuan Arab. Pujangga-pujangga syair zaman jahiliyah membanggakan suku, kemenangan dalam suatu pertempuran, membesarkan nama tokoh-tokoh dan pahlawan, serta leluhur mereka. Mereka juga memuja wanita dan orang-orang yang mereka cintai dalam syair-syairnya (Wargadinata, Fitriani, 2008:43).

Seorang penyair mempunyai kedudukan yang amat tinggi dalam masyarakat bangsa Arab. Bila pada suatu kabilah muncul seorang penyair maka berdatanglah utusan dari kabilah-kabilah lain, untuk mengucapkan selamat kepada kabilah itu. Untuk ini kabilah itu mengadakan perhelatan-perhelatan dan jamuan besar-besaran, dengan menyembelih binatang-binatang ternak. Wanita-wanita kabilah ke luar untuk menari, menyanyi dan bermain musik. Semua itu diadakan untuk menghormati penyair. (Syalabi, 2003:51-52).

  1. Kondisi Kebudayaaan Keluarga Bangsa Arab

Bangsa Arab sangat mengutamakan adat nya yaitu menjaga dan membela perempuan dan,  memandang kehormatan perempuan itu lebih tinggi harganya daripada jiwa, harta dan anak-pinak. Tentang pembinaan keluarga, maka umumnya adalah menurut yang biasa saja. Yaitu laki-laki meminang wanita yang hendak dikawininya kepada keluarganya. Bila pinangan itu dikabulkan, maka dibawanyalah wanita itu ke rumahnya dan dilangsungkanlah perkawinan (Syalabi, 2003:61).

Bangsa Arab juga telah mengenal thalaq (cerai). Mereka sangat takut dan menghindarkan diri dari thalaq itu. Kebiasaan bagi mereka bahwa thalaq itu di tangan laki-laki.

Ada lagi kebiasaan bangsa Arab, yaitu tidak mau mengawinkan putri-putri mereka kepada bangsa asing (yang bukan bangsa Arab).

Orang Arab juga sangat suka mempunyai banyak anak laki-laki. Suatu hal yang jelas bahwa anak laki-laki itulah yang menjadi tiang tengah keluarga pada bangsa Arab. Karena mereka hidup selalu dalam peperangan, sedang pemuda-pemuda itulah yang akan menjadi penerusnya.

Wanita Arab di zaman Jahiliah tidak mengenal “hijab”. Bahkan sampai saat sekarang ini pun wanita-wanita padang pasir Arab tidak mengenail hijab. Mereka biasa keluar rumah dengan mengapit tangan suaminya sebagai kebiasaan orang-orang Barat. Adapun hijab yang kedapatan di kota-kota Jazirah Arab di zaman sekarang, biarpun dengan cara menutup muka, atau dengan cara tidak boleh keluar rumah atau memasuki masyarakat, adalah suatu peraturan yang dimasukkan oleh bangsa Turki ke Dunia Islam, di masa mereka berkuasa dahulu. Hijab ini oleh bangsa Turki diberi corak keislaman, padahal sebenarnya dia bukan adat-istiadat Arab dan bukan pula adat-istiadat Islam (Syalabi, 2003:64).

Para wanita misalnya, meski di luar rumah selalu mengenakan semacam pakaian jubah yang biasa disebuat “abha”, namun di dalam rumah mereka sudah terbiasa mengenakan pakaian Barat, termasuk memakai berbagai produk kosmetik Barat serta menonton berbagai tayangan televisi yang selama ini ditabukan (Thohir, 2009:121).

 

  1. Kebudayaan Islam

Kebudayaan Islam adalah suatu hasil karya manusia yang berdasarkan pada pemahaman Islam yang beragam.

Perbedaaan yang lahir dari kekhususan kelompok masyarakat atau bangsa, dalam ajaran Islam tidak dianggap sebagai penyimpangan atau bertentangan dengan ajaran Islam sepanjang tetap mencerminkan nilai-nilai ajaran Islam yang didasari oleh dalil-dalil dari Al-Qur’an dan hadis, seperti bahasa komunikasi, model pakaian ,dan lain lain (Mahfud, 2011: 187).

Islam merupakan agama ciptaan Allah, yang diturunkan kepada umat manusia dengan perantaraan Nabi Muhammad saw, karena itu Islam merupakan agama Samawi (wahyu), bukan agama kebudayaan. Namun demikian agama Islam telah mendorong para pemeluknya untuk menciptakan kebudayaan dengan berbagai seginya (Fadil, 2008:21).

Kebudayaan Islam yang saat ini masih terus berkembang dan dijalankan oleh masyarakat seperti memperingati hari-hari besar Islam contohnya hari raya Idul Fitri, hari raya Idul Adha, dan tahun baru Islam.

Dalam hari raya Idul Fitri, masyarakat melakukan halal bihalal untuk menjaga silaturahmi antar sesama umat muslim. Selain hari raya Idul Fitri, padahari raya Idul Adha juga  masyarakat selalu melaksanakan pemotongan hewan qurban dan membagikannya kepada masyarakat-masyarakat di sekitar lingkungan. Sedangkan pada tahun baru Islam, masyarakat juga memperingatinya dengan mengadakan pengajian dan tahlilan.Di bidang seni, kebudayaan Islam juga masih terus berkembang seperti marawis, hadrah dan qasidah.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kebudayaan Islam mencakup tidak hanya hasil pikiran dan karya umat Islam saja, tetapi meliputi pula totalitas pikir dan karya orang-orang yang hidup dan bernaung di bawah panji-panji Islam , baik ia banga Arab ataupun Ajam (non-Arab) (Ahmad, 2008: 210-211).

 

Catatan dosen

  1. Tema sudah masuk. isi juga sudah.
  2. Masih terdapat banyak salah eja dan salah ketik.
  3. Terdapat 34% plagiasi.
  4. Daftar pustaka belum ada.

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *