Peran dan Fungsi Ijtihad terhadap Wahyu

A. Pengertian Ijtihad
Ijtihad sendiri diambil dari kata ijtihada, yajtahidu, ijtihada artinya “ melakukan kesungguhan dan ketekunan optimal untuk menetapkan hukum-hukum syara’.” Kesungguhan memahami sumber Islam (Al qur’an dan As-sunnah) dilakukan oleh para mujtahid dengan jalan memahami apa yang tersirat dalam nash dengan memperhatikan jiwa,rahasia-rahasia hukum, illat, sebab dan unsur-unsur kemaslahatan yang terkandung dalam nash (Al qur’an dan As-Sunnah). Ijtihad merupakan keunikan dan speksifikasi ajaran islam yang uni versal, sehingga penetapan hukum-hukum syara’ serta pengalihan hukum dan norma baru diselaraskan dengan situasi dan kondisi yang berlaku tanpa keluar atau meninggalkan sumber pokoknya.(Kaelany,2000:79)

Pada saat sekarang kedudukan ra’yu/ijtihad jauh sangat penting dan menonjol dibanding dari masa-masa sebelumnya. Karena banyaknya masalah kehidupan yang ada hubunganya dengan agama (terutama masalah muamalah) yang tampaknya lebih rumit.

Dalam hubungan dengan ijtihad,sering orang menyebutkan analog (qiyas). Analog merupakan salah satu teknik berfikir, oleh karena itu apabila seseorang membenarkan adanya ijtihad maka ia membenarkan pula adanya qiyas meskipun sekarang jarang sekali orang melakukan proses anologi dengan perumpamaan yang tidak tepat.

Para ulama menetapkan beberapa syarat dalam melakukan ijtihad,antara lain: orang yang berijtihad.
1. Mengetahui nashAl-qur’an dan As-sunnah
2. Mengetahui soal-soal ijma’.
3. Mengetahui bahasa Arab (dengan segala cabangnya).
4. Mengetahui ushul fiqh
5. Mengetahui nasikh mansukh
6. Ilmu-ilmu penunjang lainnya.

Dengan syarat-syarat yang dimiliki para mujtahid memahami,menganalisis,membuat sintesis yang akhirnya sampai pada kesimpulan. Teknik berfikir dan memahami sumber hukum (Al-qur’an dan As-Sunnah) berupa :

a. Analogi (Qiyas),yaitu menetapkan suatu hukum yang tidak ada nashnya dalam al-qur’an dan As-Sunnah berdasarkan persamaan illat kasus atau sebab. Contohnya menetapkan haramnya minuman keras apa pun namanya dengan menganalogikan minuman arak (khamar) karena mengandung persamaan illat, yaitu sama-sama memabukan.

b. Istihsan, meninggalkan hukum sesuatu hal/peristiwa yang bersandar kepada dalil syara’, menuju kepada hukum lain yang bersandar kepada dalil syara’ pula. Contoh perempuan haid tidak diqiyaskan kepada orang junub karena istihsan di antara lama masa haid dan tidak lama masa junub, karena itu perempuan haid boleh membaca Al-qur’an, tetapi orang junub tidak boleh. (Hampir sama dengan qiyas, tetapi tidak melihat kepada persamaan illat melainkan meninjau dari segi kemasalahan manusia).

c. Mashalihul mursalah, yaitu melihat dari unsur kemasalahatan umum yang tidak disebut dalam nash seperti membuat penjara, mengatur undang undang lalu lintas,dan sebagainya.

d. Istishhab ialah melanjutkan berlakunya hukum yang telah ada yang telah ditetapkan karena sesuai dalil, sampai ada dalil lain yang mengubah kedudukan hukum tersebut. Contoh : pada dasarnya hukum pokok bagi sesuatu muamalah adalah (dibolehkan)kecuali ada dalil yang tidak membolehkan.

e. Zari’ah, yaitu jalan menuju tujuan. Jalan untuk mencapai suatu yang wajib umpamanya adalah wajib, sebaliknya jalan yang membawa kepada yang haram adalah haram.

f. Ijma’, yaitu kebulatan pendapat segala mujtahid pada sesuatu masa atas sesuatu hukum tertentu.

g. Urf (adat), yaitu adat/kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat, baik adat itu bersifat umum ataupun adat/kebiasaan dalam suatu lingkungan tempat, daerah atau bangsa yang tidak bertentangan dengan agama dapat dijadikan hukum. Sedangkan adat istiadat yang merusak atau bertentangan dengan agama tidak bisa dijadikan hujjah atau hukum.

Contoh : kebiasaan dalam jual beli dengan jalan serah terima (tanpa menggunakan kata-kata ijab-qabul) adalah satu. (Kaelany,2000:81-82).

B. Kedudukan Hukum Ijtihad
Pada dasarnya, setiap muslim yang sudah mempunyai kriteria dan syarat sebagai seorang mujtahid diharuskan berijtihad dalam semua bidang hukum syariat. Mengenai hukum melakukan ijtihad, Para ulama membaginya menjadi tiga bagian,yaitu :

1. Wajib ‘ain, yaitu bagi orang yang di mintai fakata hukum mengenai suatu peristiwa yang terjadi, dan ia khawatirperistiwa itu lenyap tanpa ada kepastian hukumnya,atau ia sendiri mengalami suatu peristiwa dan ia ingin mengetahui hukumnya.

2. Wajib kifayah, yaitu bagi orang yang dimintai fakta hukum mengenai suatu peristiwa yang tidak dikhawatirkan lenyap peristiwa itu, sedangkanselain masih terdapat mujtahid-mujtahid lainnya. Oleh karena itu, apabila semua mujtahid tidak ada yang melakukan ijtihad, mereka berdosa semua. Akan tetapi, bila ada seseorang dari mereka memberikan fakta hukum,gugurlah tuntutan ijtihad atas diri mereka.

3. Sunat, yaitu apabila melakukan ijtihad mengenai masalah-masalah yang brlum atau tidak terjadi. (Anwar,Yunus, Saehudin,2009:194-195).

Urgensi upaya ijtihad dapat dilihat dari fungsi ijtihad yang terbagi atas 3 macam,yaitu :
a. Fungsi ar-ruju’ atau al-i adah (kembali),yaitu mengembalikan ajaran-ajaran islam kepada sumber pokok,yakni Al-qur’an dan Sunnah sahih dari segala interpretasi yang dimungkinkan kurang relevan.

b. Fungsi al-ihya (kehidupan),yaitu menghidupkan kembali bagian-bagian dari nilai dan semangat ajaran islam agar mampu menjawab dan menghadap tantangan zaman sehingga islam mampu sebagai furqan hudan,dan rahmatan lil alamin.

c. Fungsi al-inabah (pembenahan),yakni membenahi ajaran-ajaran islam yang telah diijtihad oleh ulama terdahulu dan dimungkinkan adanya kesalahan menurut konteks zaman,keadaan,dan tempat yang kini kita hadapi.

Ketiga fungsi tersebut mengingatkan kita akan tajdid, yakni mengadakan pembaharuan dari ajaran-ajaran islam. Dapat kita katakan bahwa ijtihad tidak lain hanyalah merupakan pengadaan tajdid dalam ajaran islam, dan istilah itu berkembang dengan istilah reaktualisasi,reinterpretasi,renovasi,revitalisasi,rasionalisasi,reformasi,dan modernasi.

C. Ijtihad terhadap Islam
Ada dua kenyataan dasar yang harus diingat yaitu :
1. Kedaulatan Tuhan
2. Kerasulan Muhammad saw.

Islam tidak mengakui kedaulatan pihak mana pun selain dari Tuhan dab sebagai akibatnya tidak mengakui sumber hukum mana pun selain Dia. Konsep tauhid , sebagaimana yang dipertahankan Al-quran , tidak hanya terbantas pada konsepsi bahwa keberadaan nya merupakan satu-satunya obyek pribadatan dalam artian religius. Penegakan ideologi secara utuh dengan landasan bahwa umat manusia harus menata semua urusan etika dan sosialnya selaras dengan Syari’ah yang telah disampaikan Tuhan melalui Rasul-rasulnya. Penyerahan terhadap hukumnya inilah yang diberi nama Islam dalam Al-quran. (Al-Maududi,1975:92).

Kerasulan Muhammmad SAW, hal yang kedua yang paling mendasar dalam islam disamping keesaan Tuhan adalah bawa Rasullullah Muhammad saw, adalah Nabi dan Rasulnya yang terakhir. Karena faktor inilah yang menyebabkan konsep keesaan Tuhan mewujudkan diri dari suatu gagasan-gagasan yang abstrak kedalam sistem praktek. Membentuk satu-satunya sumber tuntunan dan hukum ilahi, karena tidak ada lagi tuntunan lain yang diwahyukan yang menyebabkan umat manusia berpaling ke tuntunan baru. (Al-maududi,1975:93).

 

Tugas ini disusun guna untuk memenuhi tugas ujian tengah semester metodologi studi islam, dosen:M. Nasrudin, M.H.

Ria Anggraini Saputri (1602100056)
Prodi/Kelas: S1 Perbankan Syari’ah /A
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri
(STAIN) Jurai Siwo Metro
TP. 2016/2017

 

Catatan

  1. Tulisan ini bagus, tapi tidak sinkron antara judul dan isi. Dengan kata lain, tulisan ini belum menjawab pertanyaan.
  2. Plagiasi hanya 5%

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *