Peran dan Fungsi Hadist terhadap Wahyu

Nama : Ria Agustina
Prodi : S1 PBS kelas A
NPM : 1602100055

Menurut bahasa kata wahyu berasal dari bahasa Arab al-wahy yang memiliki beberapa arti yaitu suara, tulisan isyarat, bisikan, paham dan juga api. Dengan demikian pengertian wahyu itu sendiri secara etimologis adalah penyampaian sabda tuhan kepada manusia pilihan-Nya tanpa di ketahui orang lain, agar di teruskan kepada umat manusia untuk di jadikan sebagai pegangan hidup baik di dunia maupun di akhirat kelak.(Zeid B. Smeer:2008,10)

Hadist secara etimologis adalah al-jadid dan al-khabar, sesuai dengan disiplin ilmu masing-masing. Dapat juga bermakna ucapan yang di gunakan dalam percakapan atau yang datang melalui wahyu.Jadi, hadis berasal dari wahyu Allah SWT melalui perantara-Nya.(Zeid B. Smeer:2008,10)

Islam merupakan sebuah agama yang ajaran-ajarannyadi wahyukan Tuhan kepada masyarakat manusia melalui Nabi Muhammad SAW. sebagai rasul. wahyu tuhan itu merupakan kalam Allah (perkataan Allah) yang di turunkan kepada Muhammad melalui perantara Jibril a.s. yang tertulis dalam lembaran-lembaran yang di sampaikan kepada kita secara mutawatir. (Zeid B. Smeer:2008,10)

Hadist dalam Islam memiliki peran yang sangat penting. Karena hadis merupakan salah satu sumber ajaran agama islam kedua setelah al-Qur’an. Maka al-Qur’an adalah sumber ajaran islam yang pertama dan hadist merupakan sumber ajaran islam yang kedua , dan di antara keduanya saling berkaitan tidak dapat di pisahkan karena al-Qur’an dan hadist keduanya adalah wahyu. Hanya saja al-Qur’an merupakan wahyu matlu dan hadist wahyu ghoiru matlu. (Munzier Suparta:2011,05)

Banyak ayat maupun hadist yang menerangkan tentang kedudukan hadist dalam Islam. Pada masa rasulullah hadishadis sebagai sumber hukum kedua menuntut para sahabat untuk selalu berpegang teguh dengan hadist dan mengamalkannya. Keyakinan bahwa islam tidak dapat di pahami dengan sempurna tanpa adanya intervensi atau campur tangan dari hadist mendorong mereka untuk selalu menjaga dan mengambil hadist.(Abudin:2000,12)

Seluruh umat islam sudah sepakat bahwa hadist rasul merupakan sumber hukum islam setelah al-Qur’an, dan umat islam di wajibkan mengikuti hadist sebagaimana di wajibkan mengikuti al-Qur’an. Al-Qur’an dan hadist merupakan dua sumber hukum syari’at Islam yang tetap yang keduanya merupakan wahyu dari Allah SWT. Yang orang Islam tidak mungkin bisa memahami syari’at Islam seecara mendalam dan lengkap dengan tanpa kembali kepada dua sumber islam tersebut. Seorang mujtahid dan seorang alimpun tidak di perbolehkan hanya mencakupkan salah satu dari keduanya.(Agus Solahudin &Agus Suyadi:2011,09)

Hadist juga di definisikan oleh para ulama seperti definisi As-sunah, yaitu “segala sesuatu yang di nisabkan kepada Muhammad saw., baik ucapan, perbuatan dan ketetapan,maupun sifat fisik dan psikis, baik sebelum beliau menjadi nabi maupun sesudahnya”.( Zeid B. Smeer:2008,10) Jadi kita sebagai umat muslim juga harus mengikuti hadist rasul.

Mengkaji tentang funsi hadist tidak terlepas daritidak terlepas dari pemahaman dan keyakinan kita terhadap kedudukan hadist itu sendiri. Banyak ayat-ayat al-Qur’an yang di jadikan sebagai landasan untuk kedudukan hadist sebagai sumber hukum Islam , beberapa diantaranya yaitu QS. Al-Nahl ayat 44, QS.al-Nisa ayat 59, QS.al-Nisa ayat 80 dan QS. Al Imranayat164.(Idri:2010,10) Fungsi utama hadist yaitu sebagai penjelasan terhadap ayat-ayat al-Qur’an yang memerlukannya. Setelah mengutip dari beberapa buku Ulumul hadist merangkumkan beberapa bentuk penjelasan tersebut yaitu; bayan al-ta’kid ,bayan al-tafsir, bayan al-takhshis, bayan al-ta’yin, bayan al-tasyri’ dan bayan naskh. Berdasarkan bentuknya hadist di bagi menjadi hadist Qauliyah , hadist fi’liyah, dan hadist taqririyah . Namun sebagian ulama menyebutkan hadist ahwali dan hadist hammi sebagai bagian dari bentuk hadist.

Sedikit penjelasan mengenai bayan :
1) Bayan tafsir yaitu sebagai penjelas terhadap al-Qur’an
2) Bayan al-ta’kid yaitu sebagai penguat atau memperkuat keterangan al-Qur’an
3) Bayan naskhi atau naskh yaitu hadist yang menghapus hukum yang di terangkan dalam al-Qur’an
4) Bayan tasyri’i yaitu hadist menciptakan hukum syari’at yang belum di jelaskan dalam al-qur’an (al-Munawar:1996)

Jadi, kesimpulan yang dapat saya ambil dari penjabaran saya mengenai materi peran dan fungsi hadist terhadap wahyu yaitu hadist merupakan suatu wahyu yang memiliki kaitan hubungan yang padu terhadap al-Qur’an karena berdasarkan fungsi hadist itu sendiri yaitu sebagai penjelas dari ayat-ayat al-Qur’an.

 

Catatan dosen

  1. Tema sudah masuk, konten juga.
  2. masih banyak salah ketik dan eja
  3. Daftar pustaka belum ada.
  4. Plagiasi 10%, ditoleransi.

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *