Peran dan Fungsi Akal terhadap Wahyu

Manusia adalah makhluk ciptaan Allah SWT yang paling sempurna. Hal yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya adalah akal. Akal adalah anugerah tuhan yang paling hakiki pada manusia, karena akal diciptakan dengan fitrah yang bijak dan arif sesuai dengan fungsinya yaitu sebagai alat menalar. (Harjoni:2012,22)

Menurut beberapa kalangan ahli agama akal dan wahyu tidak dapat dipertemukan karena antara akal dan wahyu memiliki pandangan yang sangat berbeda. Dikalangan ahli agama ada yang beranggapan bahwa jika wahyu diselidiki, maka wahyu akan turun nilainya dan akan hilang kesakralannya, padahal menurut ahli agama wahyu lebih tinggi dari akal. Wahyu berasal dari tuhan, sedangkan akal berasal dari manusia. Jadi para ahli agama menyimpulkan bahwa wahyu lebih tinggi dari akal, wahyu diterima oleh akal manusia karena hanya manusia yang memiliki akal . Namun sebaliknya para filosof menganggap bahwa dirinya yang paling benar sebab akal manusia adalah ukuran segalanya. Tanpa wahyu, akal mampu mencari kebenaran dan membimbing manusia. (Amsal Bakhtiar:2005,1)

Dengan menggunakan akal, manusia mampu memahami wahyu yang diturunkan Allah SWT. Adapun contoh wahyu dalam hal ini yang dapat dipahami sebagai wahyu langsung adalah Al-Quran. Akal dan wahyu digunakan manusia untuk membahas ilmu pengetahuan. Akal digunakan manusia untuk bernalar, sedangkan wahyu digunakan sebagai pedoman untuk berfikir. Akal dan wahyu berada pada posisi yang berseberangan, namun jika diselidiki lebih dalam, akan terlihat bahwa akal dan wahyu saling membutuhkan. (Amsal Bakhtiar:2005,1)

Akal diarahkan untuk menalar isi Al-Quran (wahyu), disnilah akal mulai menemukan petunjuk tentang keyakinan atas dasar kebenaran. Dari hasil menalar akal tersebut maka Al-Quran (wahyu) dapat dibuktikan secara rasio atau logika atau dapat diterima akal. Wahyu dapat diterima akal bahkan dapat ditelaah kebenarannya secara filosofis baik relatif maupun mutlak. (Harjoni:2012,23)

Karena akal inilah maka manusia dikatakan sebagai makhluk yang berkuasa, karena kemampuannya untuk mengubah dunia baik secara fisik maupun nilai sosial. Karena kemampuannya yang bersumber dari akal inilah ia dapat berbuat apa saja atau menjadi apa saja yang ia inginkan. Wahyu tuhan hanya ditujukan kepada manusia yang berakal,wahyu tuhan tersebut berisikan firman-firman yang sifatnya membimbing manusia kejalan kehidupan yang menuju kesejahteraan dunia dan akhirat, inti atau hakikat dari wahyu adalah berupa perintah (yang diwajibkan) dan larangan (yang diharamkan), sehingga perilaku (tindakan dan perbuatan) manusia mengarah pada konteks aqidah,akhlak, dan syari’ah. (Harjoni:2012,52)

 

Rujukan
Harjoni.2012.Agama Islam Dalam Pandangan Filosofis.Bandung:Alfabeta
Bakhtiar,Amsal.2005.Filsafat Agama.Jakarta:Rajawali pers

 

NURI RISKA YANTI (1602100163) Mahasiswi semester: 1 KLS:A PRODI: Perbankan syariah IAIN Metro

 

Catatan

  1. Tulisan sudah sesuai dengan tema. Kontennya juga
  2. Plagiasi 5%.
  3. Daftar pustaka kurang 1 buah.

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *