Makna Wahyu Menurut Islam

Secara etimologis Wahyu berarti tersembunyi (al’kafa’) dan ceptan (al-sur’ah) tulisan Arab disebutkan bahwa secara bahasa Wahyu adalah al-kalam atau pemberian informasi secara rahasia jadi makna Central pemberian Wahyu adalah pemberian informasi kepada seseorang secara tersembunyi dan berlangsung dengan cepat sehingga tidak diketahui oleh orang yang lain. Dengan kata lain Wahyu adalah sebuah komunikasi antara dua pihak yang mengandung pemberian informasi atau pesan secara samar dan rahasia(hadhiri:2005,68).Pemberian informasi ini menggunakan suatu kode yang diketahui oleh kedua pihak dan pihak ketiga tidak dapat mengetahui kecuali setelah diterima oleh pihak penerima pertama, yakni Nabi Muhammad s a w.Ada peendapat lan mengenai Arti wahyu dari segi bahasa adalah petunjuk yang di sampaikan secara sembunyi, atau dengan kata lain wahyu tersebut menggunakan metode sembunyi-sembunyi dalam penyampaiannya. Pengertian wahyu Menurut syara’ wahyu adalah pemberitahuan Allah SWT kepada orang yang dipilih dari beberapa hamba-Nya mengenai beberapa petunjuk dan ilmu pengetahuan yang hendak diberitahukannya tetapi dengan cara yang tidak biasa bagi manusia, baik dengan perantaraan atau tidak dengan perantaraan. Lafazh “wahyu” ini menunjukkan bahwa penyampaian berita dari Allah Swt kepada Rasulullah SAW menggunakan metode khusus(Acep: 2011, 81).Hal itu dapat dibuktikan dengan digunakannya metode sembunyi-sembunyi, keakuratan, dan tidak memungkinkannya orang lain untuk dapat mengetahui atau bahkan untuk sekedar merasakannya.

komunikasi dalam konteks Wahyu sangat berbeda dengan situasi komunikasi lain. Dua sisi komunikasi yang mendasar dalam proses per wahyuan adalah Allah di satu pihak dan rasul yang manusiawi di pihak lain. Proses ini memiliki cara-cara tertentu sebagaimana yang dijelaskan dalam Al Quran secara sistematik pengertian wahyu dapat dikelompokkan menjadi tiga persoalan. Persoalan pertama Wahyu merupakan proses komunikasi artinya proses ini harus melibatkan dua orang atau harus ada dua orang di arena agar peristiwa yang disebut Wahyu benar-benar terwujud. yang menuduh bahwa wahyu itu hanyalah berupa angan-angan dari dalam diri Nabi sendiri. Tuduhan itu tidak tepat. Sebab wahyu itu adalah sebagaimana yang telah dijelaskan diatas. Ustadz Muhammad Abduh mendefinisikan ilham ialah intuisi yang diyakini oleh jiwa yang mendorong untuk mengikuti apa yang diminta, tanpa sadar dari mana datangnya, hal dan senang.

Pengertian wahyu setelah kita memahami Alquran sebagai wahyu Allah yang tertulis sekarang pemahaman kita dapat ditarik ke tatanan yang lebih abstrak yaitu Apa yang dimaksud dengan Wahyu itu sendiri(kahar: 2002,159). M Hasbi As Siddiq mengutip berbagai pendapat pakar tentang tentang Wahyu bahwa Wahyu menurut bahasa adalah isyarat yang cepat atau segala yang kita sebut kepada orang lain untuk diketahui isyarat cepat dapat saja datang dari Allah atau datang dari selain Allah termasuk iblis sedangkan menurut istilah Wahyu adalah nama bagi suatu yang dituangkan dengan cepat dari Allah ke dalam keadaan nabi-nabinya, sebagaimana dipergunakan juga untuk lafaz Alquran (khahar: 2002, 164)

Sedangkan menurut saya wahyu adalah pemberian informasi secara rahasia jadi makna central pemberian Wahyu adalah pemberian informasi kepada seseorang secara tersembunyi dan berlangsung dengan cepat yang di berikan kepada nabi-nabi sebelum muhammad dan nabi-nabi sebelumnya.

Cara menyampaikan wahyu melalui perantara malaikat antara lain ada empat cara
1. Malaikat menyampaikan ke dalam hati nabi yang di mana tapi tidak melihatnya
Malaikat datang kepada Nabi seperti seorang laki-laki selalu menyampaikan misi ilahiah kepadanya
3. malaikat datang kepada Nabi seperti bunyi bel hal ini sangat susah bagi nabi sehingga Iya berkeringat walau pada saat cuaca dingin
4. Malaikat datang kepada Nabi dalam bentuk aslinya sebagai malaikat kemudian Ia menyampaikan istilah ia itu kepada rasul sesuai dengan apa yang Allah kehendaki (Acep: 2011, 83)

DAFTAR PUSTAKA
Acep Hermawan, 2011, Ulumul Qur’an, Bandung,PT Remaja Rosdakaya, hal 17
Hadhiri khoirudin,2005, Kandungan Al- Qur’an, Gema Insani, hal 68
Khahar Mansur,2002, Pokok-Pokok Ulumul Quran , PT Rineka Cipta, hal 49

 

Catatan

  1. Sudah menjawab pertanyaan.
  2. Plagiasi 23%.

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *