Latar Belakang Studi Islam

Islam merupakan suatu agama yang diturunkan Allah SWT kepada umat manusia melalui para Rasulnya, sejak dari Nabi Adam AS sampai kepada Nabi Muhammad SAW, ajaran itu berwujud prinsip-prinsip atau pokok-pokok yang disesuaikan menurut lokasi atau keadaan umatnya. Pada masa Nabi Muhammad SAW prinsip-prinsip atau pokok-pokok itu disesuaikan dengan kebutuhan umat manusia secara keseluruhan, yang dapat berlaku pada segala masa dan tempat. Ini berarti bahwa ajaran yang diturunkan melalui Nabi Muhammad SAW merupakan ajaran yang melengkapi atau menyempurnakan ajaran yang dibawa nabi-nabi sebelumnya.

Ajaran islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW dari Allah SWT berisi pedoman hidup pokok yang mengatur hubungan manusia dengan tuhannya, dengan dirinya sendiri, dengan manusia sesama, dengan makhluk bernyawa yang lain, dengan benda mati, dan dengan alam semesta. Ajaran islam diyakini sebagai ajaran yang diturunkan Allah SWT untuk kesejahteraan hidup manusia didunia ini dan di akhirat nanti.

Dari segi tingkatan kebudayaan, agama merupakan universal cultural. Salah satu prinsip teori fungsional menyatakan bahwa segala sesuatu yang tidak berfungsi akan lenyap dengan dirinya. Karena sejak dulu hingga sekarang agama dengan tangguh menyatakan eksistensinya, berarti ia mempunyai dan memerankan sejumlah peran dan fungsi dimasyarakat. Oleh karena itu, secara umum, studi islam menjadi penting karena agama, termasuk islam memerankan sejumlah peran dan fungsi dimasyarakat.

Namun, dikalangan para ahli masih terdapat perdebatan disekitar permasalahan apakah studi islam dapat dimasukkan kedalam bidang ilmu pengetahuan, mengingat sifat dan karakteristik antara ilmu pengetahuan dan agama berbeda. Menurut Amin Abdullah, pangkal otak kesulitan pengembangan scope wilayah kajian islamic studies atau dirasah aslamiyah berakar pada kesukaran seorang agamawan untuk membedakan antara yang normativitas dan historisitas. Pada dataran normativitas kelihatan islam kurang pas untuk dikatakan sebagai disiplin ilmu, sedangkan untuk dataran historisitas tampaknya tidaklah salah.

Pada dataran normativitas studi islam agaknya masih banyak terbebani oleh misi keagamaan yang bersifat memihak, romantis, dan apologis, sehingga kadar muatan analisis, kritis, metodologis, historis, empiris, terutama dalam menelaah teks-teks atau naskah-naskah keagamaan produk sejarah terdahulu kurang begitu ditonjolkan, kecuali dalam lingkungan para peneliti tertentu yang masih sangat terbatas.

Dengan demikian secara sederhana dapat ditemukan jawabannya bahwa dilihat dari segi normatif sebagaimana yang terdapat dalam Al-Quran dan hadis, maka islam lebih merupakan agama yang tidak dapat diberlakukan kepadanya paradigma ilmu pengetahuan, yaitu paradigma analitis, kritis, metodologis, historis, dan emparis. Sebagai agama, islam lebih bersifat memihak, romantis, apologis, dan subjektif, sedangkan jika dilihat dari segi historis, yakni islam dalam arti yang dipraktikkan oleh manusia serta tumbuh dan berkembang dalam sejarah kehidupan manusia, maka islam dapat dikatakan sebagai sebuah disiplin ilmu, yakni ilmu keislaman atau islam studies.

Rujukan
Munjin,Ahmad nasih.2009.Metode dan Teknik Pembelajaran Pendidikan Agama Islam.Hal14.Bandung:Refika Aditama.
Abuddin,Nata. 2001.Metodologi Studi Islam.Hal103. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Abuddin,Nata. 2004.Metodologi Studi Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Nama Penulis : Bayu Pratama
Mahasiswa Semester 1 Kelas B Prodi
Perbankan Syari’ah IAIN Metro

 

Catatan

  1. Plagiasi 22 %
  2. Lumayan, meski belum 100% tepat.

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *