Kondisi Sosial Ekonomi Dunia Arab Pra-Islam

 

Pada masa pemerintahan kerajaan Saba’ dan Himyar di Jazirah Arab selatan, kegiatan perdagangan orang Arab meliputi laut dan darat. Kegiatan perdagangan di laut mereka pergi ke India, Tiongkok dan Sumatera dan kegiatan perdagangan di darat ialah di Jazirah Arab (Nasution: 2013, 23).

Akan tetapi setelah Yaman dijajah oleh bangsa Habsyi dan bangsa Persia, maka kaum penjajah itu menguasai kegiatan perdagangan di laut, sedangkan perdagangan di darat berpindah ke tangan orang Makkah. Ada beberapa faktor yang menyebabkan Makkah berkembang menjadi kota perdagangan.

Pertama, orang Yaman banyak yang berpindah ke Yaman, sedang mereka telah berpengalaman dalam perdagangan. Kedua, di kota Makkah dibangun Ka’bah setiap tahun jama’ah-jama’ah berdatangan ke Makkah melakukan haji yang membuat Makkah semakin masyhur. Ketiga, letak Kota Makkah berada di tengah-tengah tanah Arab antara utara dengan selatan. Keempat, daerahnya yang gersang membuat penduduknya suka merantau untuk berdagang.

Ada empat putera Abd al-Manaf yang selalu mengadakan perjalanan dagang ke tempat tempat terpenting, yaitu Hasyim mengadakan perjalanan ke negeri Syam, Abd Syam ke Habsyi, Abd al-Muththalib ke Yaman dan Naufal ke Persia. Perdagangan-perdagangan orang Quraisy yang pergi ke negeri-negeri tersebut mendapat perlindungan dari keempat putera Abd al-Manaf itu, karena itu tidak ada seorangpun yang berani mengganggu mereka (Nasution: 2013, 24).

Dengan demikian, terdapat tempat-tempat perdagangan orang Quraisy, yaitu ke utara dan selatan, mereka pergi ke Syam dan Yaman, kemudian ke barat dan timur, mereka pergi ke Habsyi dan Persia. Sedangkan pusat perdagangan mereka berada di Makkah. Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushai adalah seorang negarawan yang cakap, dia melakukan usaha-usaha memperkembangkan pemerintahan Quraisy. Mengadakan persetujuan-persetujuan dagang dengan Negara-negara tetangga, seperti Ghassani dan Bizantium, juga membuka jalur perdagangan baru dan membentuk dua qabilah dagang yang dikirim, masing-masing ke Yaman pada musim dingin dan ke Syria pada musim panas. (Q.S. al-Quraisy).

Dalam pemerintahan Hasyim ini kota Makkah benar-benar berperan sebagai pusat transito dagang yang sangat maju. Selain Hasyim, Abbas, Abu Lahab, Abu Sofyan, Abu Thalib dikenal juga sebagai pedagang dari kalangan orang Quraisy. Di Yaman, pada musim dingin kafilah dagang bangsa Arab membawa minyak wangi, kemenyan, kain sutera, kulit, senjata, rempah-rempah, cengkeh, palawija dan lain-lain. Di antara barang-barang tersebut ada yang dihasilkan di Yaman, ada pula yang di datangkan dari Indonesia, India dan Tiongkok (Nasution: 2013, 24).

Di Syria atau Syam, kafilah-kafilah dagang tersebut di atas membawa barang-barang dagangan mereka ke Syam. Di waktu kembali, kafilah-kafilah itu membawa gandum, minyak zaitun, beras, jagung dan tekstil dari Syam. Abu Thalib, paman Nabi juga pernah membawa Muhammad berdagang ke Syam. Selain itu, Muhammad juga membawa barang dagangan Khadijah ke Syam yang ditemani oleh hamba sahayanya, Maisyarah. Adapun barang-barang perdagangan terpenting dalam jalur perdagangan timur barat, kafilah-kafilah dagang Arab membawa rempah-rempah dari Habsyi untuk diperdagangkan di Persia, juga mereka berdagang mutiara di Persia yang dikeluarkan dari Selat Persia (Nasution: 2013, 24).

Bagi masyarakat pedalaman, yaitu masyarakat Badui, kehidupan sosial ekonomi mereka biasanya dilakukan melalui sektor pertanian terutama mereka yang mendiami daerah subur di sekisar Oase. Akan tetapi bagi masyarakat Arab perkotaan, kehidupan sosial ekonomi mereka sangat ditentukan oleh keahlian mereka dalam perdagangan. Oleh Karena itu, bangsa Arab Quraisy sangat terkenal dalam dunia perdagangan. Mereka melakukan perjalanan dagang dua musim dalam setahun, yaitu ke Negara Syam pada musim panas dan ke Yaman pada musim dingin.

Ada empat tokoh suku Quraisy yang tercatat sebagai tokoh-tokoh bisnis masa lalu. Mereka adalah Hasyim yang lebih senang berkunjung ke Syam, Abd Syams memilih ke Habasyah, al-Muthalib ke Yaman, dan Naufal ke Persia. Sebelum mereka justru para pedagang dari luar wilayah Makkahlah yang datang menawarkan dagangannya, tetapi dengan kegiatan keempat tokoh itu, maka wajah perekonomian masyarakat Makkah berubah dan kesejahteraan pun meningkat (Shihab: 2011, 63).

Di kota Mekah terdapat pusat perdagangan, yaitu pasar Ukaz, yang dibuka pada bulan-bulan tertentu, seperti Zulqo’dah, Zulhijjah dan Muharam. Disamping itu pada bulan-bulan tersebut juga bersamaan dengan pelaksanaan ibadah haji (Guru PAI: 2008, 4-5)

Tentang perindustrian atau kerajinan mereka adalah bangsa yang paling tidak mengenalnya kebanyakan hasil kerajinan yang ada di arab berasal dari rakyat yaman, hirah dan pinggiran Syam. Sekalipun begitu ditengah jazirah ada pertanian dan penggembala hewan ternak, sedangkan wanita-wanita arab menangani pemintalan. Tetapi kekayaan-kekayaan yang dimiliki bisa mengundang pecahnya peperangan. Kemiskinan, kelaparan dan orang-orang yang telanjang merupakan pemandangan yang biasa ditengah masyarakat.( Shafiyyurahman: 2007, 62)

Daftar pustaka

Dr. H. Syamruddin Nasution. M.Ag. 2013, Sejarah peradapan islam, Riau, 2013.
M. Quraish Shihab, Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadits-hadits Shahih, Tanggerang, 2011.
Musyawarah guru PAI. 2008. Modul Hikmah Membina Kreatifitas dan Prestasi. Akik Pustaka.
Syaikh Shafiyyurahman. 2007. Sirah Nabawiyah. Jakarta: PUSTAKA AL-KAUTSAR.

Nama :Rizki luthfi sandi
Npm :1602100181
Prodi :S1 Perbankan syariah

 

Catatan

  1. Tulisan sudah sesuai tema dan bagus.
  2. Hanya sedikit salah ketik dan eja.
  3. Plagiasi ada 38%. Ambil gagasan dari buku, uraikan ulang dengan bahasa kamu sendiri.

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *