Kriteria Kebenaran dalam Epistomologi Islam

Dalam pembahaan filsafat, epistimologi dikenal sebagai sub system dari filsafat. Epistomologi adalah teori pengetahuan, yaitu membahas tentang bagaimana cara mendapatkan pengetahuan dari objek yang dipikirkan. Meskipun epistomologi merupakan sub sistem filsafat tetapi cakupannya sangat luas. Jika kita memadukan aspek aspek epitomologi sebagaimana diuraikan tersebut maka teori pengetahuan itu bisa meliputi hakikat, keaslian, sumber, struktur, metode, validitas, unsur, macam, tumpuan, batas, sasaran , dasar, pengandaian, kodrat, pertanggungjawaban dan skope pengetahuan. [Prof. Dr. Mujamil Qomar, M.Ag. Epistomologi pendidikan islam, Malang, hlm 2]

Dasar pembenaran mengharuskan seluruh cara kerja ilmiah diarahkan untuk memperoleh derajat kepastian yang setinggi mungkin. Ini berarti pertama, pemahaman yang akan di uji dalam suatu cara kerja ilmiah harus dapat dibenarkan secara a priori. Kedua, cara pengujian itu sendiri harus memiliki dasar pembenaran yang sudah teruji, sehingga dapat disebut metode ilmiah. Ketiga, setelah teruji melalui metode ilmiah, pemahaman itu yang sekarang termasuk pengetahuan ilmiah atau ilmu seyogiannya dapat dibenarkan secara a posteori.

Dalam suasana berkehidupan di masyarakat, menurut foucalt [semiawan 2005; 101] dalam masyarakat modern, politik umum kebenaran ditandai oleh lima karakteristik dasar, yaitu sebagai berikut;

1. Kebenaran difokuskan pada tuturan [wacana] ilmiah serta institusi institusi yang menghasilkan.
2. Kebenaran tunduk pada tuntutan atau pengarahan pihak pihak yang berperan dalam ekonomi dan politik.
3. Kebenaran berkembang melalui institusi pendidikan dan informasi yang terdapat dalam masyarakat.
4. Kebenaran dihasilkan serta di sebarluaskan dibawah kontrol atau dominasi beberapa gelintir aparat politik, ekonomi [universitas, militer, penulis, dan media] yang serba eksklusif.
5. Kebenaran menjadi isu semua kebenaran politik dan pertentangan atau perdebatan ideologis dan social.

Kelima karakteristik dasar politik umum kebenaran tersebut menamakan tentang penelitian sebagai sekumpulan data yang dipakai sebagai pisau analisis. Dengan demikian , di dalam mencari ilmu, seseorang menggunakan paradigma yang terarah, yang ditindak lanjuti dengan metode ilmiah melalui serangkaian riset dan kemudian membangun teori dari hasil riset yang ditemukannya. Dan teori itu dipublikasikan kepada khalayak untuk mendapat tanggapan.
[Drs. A. Susanto, m.pd. suatu kajian dalam dimensi ontologis, epitomologis, dan aksiologi, Jakarta; Bumi aksara, 2001, hlm; 23]

Cara Untuk jalan mencapai kebenaran dalam epistomologi
1. Kebenaran teorotis / rasionalisme
Rasionalisme adalah paham yang mengatakan bahwa akal alat pencari dan pengukur pengetahuan. Pola rasionalisme bila diterapkan pada epistomologi dalam pemikiran islam – termasuk ilmu kalam – tidak peduli terhadap masukan masukan yang diberikan oleh empirisme.
2. Kebenaran wahyu /mukasyafah /musyahadah [kebenaran legius]
Mukasyafah adalah salah satu tangga menuju pengetahuan tentang tuhan. Mukasyafah yaitu upaya penyingkapan hijab hijab yang menutupi diri. Pengetahuan mukasyafah berpijak pada asumsi bahwa allah ada. [Ahmad tafsir, filsafat ilmu, bandung; rosda, 2009, hlm, 137-146]

 

Nama : faisal Prayogi

kelas : B Prodi S1 pbs

Semester 1

 

 

Catatan

  1. Tema kurang fokus dan justru melebar ke area politik.
  2. In-note tidak perlu mencantumkan judul buku. Cukup nama akhir penulis, tahun terbit, dan halaman.
  3. Daftar pustaka tidak ada.
  4. Plagiasi 23%

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *