Kelahiran Islam di dalam Budaya Arab

METODOLOGI STUDI ISLAM
Kelahiran Islam Di Dalam Budaya Arab
Tugas Ini Di Ajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan
Ujian Tengah Semester
Dosen Pengampu : M. Nasrudin, M. H.

Di Susun Oleh :
Tesa Wiandiri 1602100196

Program Study : S1 Perbankan Syariah
Jurusan : Syariah dan Ekonomi Islam
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
NEGERI (STAIN) JURAI SIWO METRO
TA. 2016/2017

 
KELAHIRAN ISLAM DI DALAM BUDAYA ARAB

Menurut Koentrajaningrat kebudayaan harus mempunyai tiga wujud, yaitu wujud ideal yang berupa suatu ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma dan peraturan. Wujud kelakuan, yaitu wujud kebudayaan sebagai sesuatu yang kompleks atas aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat. Wujud benda, yaitu kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya. Landasan kebudayaan islam adalah agama. Agama bukan kebudayaan tetapi dapat melahirkan kebudayaan, kebudayaan merupakan hasil cipta, rasa, dan karsa manusia. Maka agama islam adalah wahyu dari Tuhan. Agama Ardli (budaya) adalah agama yang diciptakan manusia. (Fadil: 2008, hal. 20-21).

Selain pengertian diatas, budaya Islam juga mempengaruhi budaya arab, yaitu dimana kota Makkah sebagai tempat kelahiran Nabi Muhammad SAW dan sekaligus sebagai tempat pertama Nabi Muhammad SAW menyampaikan ajaran Islam, dimana Ka’bah sebagai lambang dan pusat sosial budaya bangsa arab menjadikan sumber perekonomian dan perdagangan bagi bangsa arab sebagai budaya. Kebiasaan penduduk Makkah yaitu berdagang sehingga kebiasaan tersebut menjadikan mempercepat pengembangan dan pembudayaan Islam dilingkungan budaya bangsa arab secara merata.

Budaya bangsa arab yang lainnya yaitu memiliki keahlian lain dalam bidang sastra dengan para penyair yang terkenal. Bangsa arab sangat menghargai syair-syair yang indah, penyair pun juga dihormati demi menjaga kebanggaan masyarakat. Dengan budaya bangsa arab tersebut pasti akan lebih mudah masyarakatnya mendukung tumbuh suburnya peradaban Islam yang bersumber pada Al-qur’an, kitab suci yang memiliki nilai sastra yang sangat tinggi untuk menjadikan kebiasaan atau kekuatan daya hafalan mereka atas syair-syair arab walaupun sebagian masyarakatnya belum pandai baca, tulis. (Fadil: 2008, hal. 91).

Karena hal diatas, bangsa Arab mengalami proses islamisasi yaitu suatu proses terjadinya atau terbinanya apa yang disebut peradaban Islam dilingkungan budaya bangsa arab yang telah berkembang. Proses ini berlangsung sejak diutusnya Nabi Muhammad SAW untuk meletakkan dasar-dasar agama Islam terhadap penduduk makkah. Al-qur’an merupakan warisan dari budaya Islam didalam budaya bangsa arab dan proses islamisasi ditandai dengan pembudayaan Al-qur’an ke dalam lingkungan budaya bangsa arab. (Fadil: 2008, hal. 92).

Nabi Muhammad SAW menciptakan 2 periode dalam mengembangkan dan melahirkan Islam di dalam kebudayaan bangsa Arab, yaitu :

1. Periode Makkah
Disini Rosulallah bertugas untuk memperkembangkan peradaban bangsanya dan mengarahkannya pada sistem peradaban atau budaya Islam, hal tersebut mempunyai faktor yaitu dalam hal pengalaman, pengenalan, serta perannya di kehidupan sosial masyarakat. Selain itu, Nabi Muhammad SAW sering melakukan “tahannus” yaitu menjauhkan diri dari kehidupan ramai dan ber-khalwat mendekatkan diri kepada Allah untuk mendapatkan petunjuk. Bertahannus merupakan tradisi bangsa arab pada masa itu, bahkan tradisi tahannus merupakan warisan suci dari Nabi Ibrahim a.s.

Setelah menjadi rosul beliau menjalankan tugasnya yaitu menghilangkan budaya yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, yaitu :
a. Persaingan merebutkan kekuasaan.
b. Bangsa Arab hidup berkasta, bangsa Arab membedakan hal antara kasta bangsawan dan kasta hamba sahaya. Sedangkan Islam menyerukan adanya persamaan hak, memandang semua makhluk sama, dan yang membedakan hanyalah ketaqwaannya.
c. Taqlid kepada nenek moyang secara membabi buta, sampai mengikuti langkah-langkah mereka dalam soal-soal peribadatan dan pergaulan merupakan suatu tradisi yang dipandang mutlak dan membawa keberuntungan bagi bangsa arab.
d. Memperniagakan patung, sebagian masyarakat Arab Makkah memahat patung yang menggambarkan al-Lata’, al-Uzza, Manak, dn Hubal sebagai Tuhan-Nya dan menjadi sumber perekonomian mereka.

Ketika Islam datang, Nabi Muhammad SAW mengganti dan mengajarkan bahwa untuk memulai suatu pekerjaan dengan menyebut nama Allah (bismillah), yang semula bangsa arab memiliki tradisi membaca dan menghafal syair-syair indah yang berisi pujian terhadap Tuhan (berhala) dan nenek moyang mereka, maka beliau mengganti dan membiasakan mereka dengan membaca dan menghafal ayat-ayat Al-qur’an.

Dalam pemujaan dan penyembahan untuk meminta pertolongan mereka kerap kali menyembah berhala sebagai perantara untuk menyampaikannya kepada Allah. Setelah Islam datang, beliau mengganti kebiasaan tersebut dengan melaksanakan ibadah solat sebagai cara pemujaan dan penyampaian permohonan secara langsung kepada Allah. Semua kebiasaan tersebut juga di contohkan Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari, menunjukkan sifat keteladanannya dalam segala aspek kehidupan sesui dengan norma-norma yang telah diajarkan dalam Al-qur’an.

Dengan demikian ditegaskan bahwa usaha dan proses Islamisasi budaya bangsa Arab pada periode Makkah merupakan realisasi, penjabaran serta pelaksanaan dari ayat-ayat Al-qur’an yang turun di Makkah.

Jadi, dalam periode Makkah ini dapat di berikan kesimpulan bahwa Rosulallah menerapkan usaha Islamisasi untuk merombak unsur-unsur budaya yang sudah menjadi tradisi dan adat kebiasaan masyarakat bangsa arab pada masa itu, dan merombak pemujaan (Fadil: 2008, hal. 93-102).

2. Periode Madinah
Setelah di Madinah Nabi Muhammad SAW resmi menjadi pemimpin penduduk kota itu, berbeda dengan periode Makkah pada periode Madinah Islam merupakan kekuatan politik. Ajaran Islam yang berkenaan dengan kehidupan masyarakat banyak turun di Madinah. Dalam rangka memperkokoh masyarakat dan negara baru itu, beliau segera meletakkan dasar-dasar kehidupan bermasyarakat, yaitu :

a. Membangun Masjid, untuk membudayakan masyarakat Arab melakukan solat dan sebagai sarana untuk mempersatukan kaum muslimin dan mempererat tali persaudaraan mereka. Dan budaya musyawarah selalu digunakan untuk merundingkan masalah-masalah yang mereka hadapi.
b. Ukhuwwah Islamiyah, yaitu budaya untuk mempersaudarakan sesama muslim, beliau mempersaudarakan antara golongan Muhajirin dan Anshor.
c. Hubungan persahabatan dengan orang lain yang tidak beragama Islam. Karena di Madinah terdapat golongan masyarakat Yahudi yang masih menganut budaya nenek moyang mereka dengan mengadakan perjanjian piagam Madinah. (Yatim: 2010, hal. 25-26).

Dengan terbentuknya negara Madinah, Islam menjadi bertambah kuat. Umat Islam diizinkan berperang yaitu menjadi budaya bangsa arab dengan alasan, untuk memperlindungi diri dan hak miliknya, serta menjaga keselamatan dalam penyebaran kepercayaan dan mempertahankannya dari orang-orang yang menghalanginya.

Bukti keberhasilan Rosulallah yang terlihat dari perubahan yang terjadi sebelum Islam dan sesudah Islam datang yaitu :
1. Dari mata pedang (sebelum Islam) menuju ke jalan damai (sesudah Islam).
2. Dari kekuatan (sebelum Islam) menuju ke undang-undang (sesudah Islam).
3. Dari balas dendam (sebelum Islam) menuju menggunakan hukum Qishas (sesudah Islam).
4. Dari serba halal (sebelum Islam) menuju mengedepankan kesucian (sesudah Islam).
5. Dari menyembah berhala (sebelum Islam) menuju berpegang pada akidah tauhid (sesudah Islam).
6. Tatanan sosial yang dipengaruhi kasta (sebelum Islam) menuju mengedepankan persamaan (sesudah Islam).
7. Dari sifat suka mengasingkan diri (sebelum Islam) menjadi satu keluarga Islam (sesudah Islam).
8. Dari kehidupan kesukuan (sebelum Islam) menjadi adanya tanggung jawab pribadi (sesudah Islam).
9. Dari sifat suka merampas (sebelum Islam) menjadi dipenuhi dengan rasa kepercayaan (sesudah Islam).
10. Memandang rendah wanita (sebelum Islam) menjadi memuliakan wanita (sesudah Islam). (Abu Bakar: 2008, hal. 23-24).

 

DAFTAR PUSTAKA

Yatim, Badri, 2010. Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II. Jakarta:
PT Raja Grafindo.
Abu, Bakar, Istianah, 2008. Sejarah Peradaban Islam. Malang:
UIN Malang Press.
Sj, Fadil, 2008. Pasang Surut Peradaban Islam Dalam Lintasan Sejarah.
Yogyakarta: UIN malang Press.

 

Catatan

  1. Dengan baik menjawab pertanyaan
  2. Plagiasi hanya 6%

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *