Kedudukan dan Fungsi Hadits terhadap Al-Quran

Pengertian Hadits secara Etimogis dan Terminologis.

Secara Etimologis kata hadis berasal dari bahasa Arab dan memiliki banyak arti, diantaranya al-jadid (yang baru) lawan dari al-qadim (yang lama), dan al-khabar (kabar atau berita). Sedangkan secara Terminologis, para ulama merumuskan pengertian hadis secara berbeda-beda. Perbedaan itu disebabkan karena terbatas dan luasnya objek tinjauan, yang pasti mengandung kecendrungan pada aliran ilmu yang didalaminya. Kemudian melahirkan dua macam pengertian hadis yaitu, pengertian hadis secara terbatas, dan secara luas. Dengan demikian, menurut ulama hadis, esensi hadis adalah segala berita yang berkenaan dengan sabda, perbuatan, taqrir, dan hal ikhwal Nabi Muhammad SAW. Yang dimaksud dengan ikhwal adalah segala sifat dan keadaan pribadi Nabi SAW. Hal ini karena para ulama berbeda dalam meninjau objek hadis itu sendiri. (Solahudin dan Suyadi, 2009: 13-17)

Alquran dan hadis sebagai pedoman hidup,sumber hukum dan ajaran dalam islam, antara satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisahkan. keduanya merupakan satu kesatuan. alquran sebagai sumber pertama dan utama banyak memuat ajaran ajaran yang bersifat umum dan global oleh karena itu kehadiran hadis, sebagai sumber ajaran kedua tampil untuk menjelaskan (bayan) keumuman isi Alquran tersebut. hal ini sesuan dengan firman ALLAH SWT(QS. An-Nahl (16):44).

“Dan kami turunkan kepadamu alquran agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang di turunkan kepada mereka dan supaya mereka berfikir”. (QS. An-Nahl (16):44)

ALLAH SWT  menurunkan Alquran bagi umat manusia, maka rosul saw diperintahkan untuk menjelaskan kandungan dan cara cara melaksanakan ajarannya kepada mereka melalui hadis hadis nya.

Oleh karena itu,fungsi hadis rasul saw sebagai penjelas (bayan)alquran itu bermacam macam. iman malik bin anas menyebutkan 5 macam fungsi, yaitu bayan al-taqrir, bayan altafsir, bayan al-tafsihil, bayan al-ba’ts, bayan al-tasyri. imam syafi’i menyebutkan 5 fungsi yaitu bayan al-tafshil, bayan at-takhshish, bayan al-ta’yin, bayan al-tasyiri dan bayan al-nasakh. dalam “al-risalah”. ia menambahkan dengan bayan al-isyarah. imam ahmad bin hanbal menyebutkan 4 fungsi, yaitu bayan al-ta’kid, bayan al-tafsir, bayan al-tasyri dan bayan takhshish. agar masalah ini lebih jelas, maka dibawah ini akan diuraikan satu per satu. (Suparta,2011:57-58)

  1. Bayan al-taqrir

Bayan al-taqrir disebut juga dengan al-ta’kid dan bayan al-itsbat. yang dimaksut dengan bayan ini, iyalah menetapkan dan memperkuat apa yang telah diterangkan dalam al-quran. fungsi hadis dalam hal ni hanya memperkokoh isi kandungan al-quran. suatu contoh hadis yang diriwayatkan muslim dari ibnu umar, yang berbunyi sebagai berikut

“Apabila kalian melihat (ru’iyah) bulan, maka berpuasalah, juga apabila (ru’iyah) itu maka berbukalah “ . (HR. muslim)

Hadis ini datang men-taqrir ayat al-quran dibawah ini

maka barang siapa yang mempersaksikan pada waktu itu bulan, hendaklah ia berpuasa…. (QS. al-baqarah(2):185)

Contoh lain, hadis riwayat bukhari dari abu hurairah, yang berbunyi sebagai berikut :

“Rasul saw telah bersabda : tidak diterima shalat seseorang yang berhadas sebelum ia berwudhu “ . (HR. Bukhari)

Hadis ini mentaqrir QS. Al-maidah (5):6 mengenai keharusan berwudhu ketika seorang akan mendirikan shalat. ayat dimaksut berbunyi :

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah muka dan tanganmu sampai dengan siku, dan saspulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan mata kaki…”

Juga hadis rasulullah saw tentang dasar dasar islam yang diriwayatkan dari ibnu umar yang berbunyi :

“Rasulullah Saw telah bersabda : Islam dibangun atas 5 dasar yaitu mengucapkan kalimat syahadat, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, menunaikan ibadah haji, dan berpuasa dalam bulan romadhan.“

Hadis ini mentaqrir ayat-ayat al-quran tentang syahadah (QS. Al-hujurat(49):15), shalat dan zakat (QS. Al-nur(24):56), puasa (QS.Al-baqarah(2):182 dan 185), dan tentang haji (QS.Al-imran(3):97).

Abu Hurairah menyebut bayan taqrir atau bayan ta’kid ini dengan istilah bayan al-muwafiq li al-nas al-kitab. hal ini dikarenakan munculnya hadis-hadis itu sealur (sesuai) dengan nas Alquran. (Suparta,2011:58-60)

 

  1. Bayan al-tafsir

Yang dimaksud bayan al-tafsir adalah bahwa kehadiran hadis berfungsi untuk memberikan rincian dan tafsiran terhadap ayat-ayat alquran yang masih bersifat global (mujmal), memberikan persyaratan atau batasan (taqyid) ayat-ayat alquran yang bersifat mutlak, dan mengkhususkan (takhshish) terhadap ayat-ayat alquran yang masih bersifat umum. Diantara contoh tentang ayat-ayat alquran yang masih mujmal adalah perintah mengerjakan shalat, puasa, zakat, disyari’atkannya jual beli, nikah. Qiyas, hudud dan sebagainya. Ayat-ayat alquran tentang masalah ini bersifat mujmal, baik mengenai cara mengerjakan, sebab-sebabnya, syarat-syarat, atau halangan-halangannya. Oleh karena itulah Rasulullah Saw melalui hadisnya menafsirkan dan menjelaskan masalah-masalah tersebut. Sebagai contoh dibawah ini akan dikemukakan beberapa hadis yang berfungsi bayan al-tafsir:

Shalatlah sebagaimana engkau melihat aku shalat “. (HR. Bukhari)

Hadis ini menjelaskan bagaimana mendirikan shalat. Sebab dalam Alquran tidak menjelaskan secara rinci. Salah satu ayat yang memerintahkan shalat adalah :

Dan kerjakanlah shalat, tunaikan zakat, dan rukulah beserta orang-orang yang ruku (QS. Al-baqarah (2): 43)

Sedangkan contoh hadis yang membatasi (taqyid) ayat-ayat Alquran yang bersifat mutlak, antara lain seperti sabda Rasulullah Saw:

Rasulullah Saw didatangi seorang dengan membawa pencuri, maka beliau memotong tangan pencuri dari pergelangan tangan.

Hadis ini mentaqyid QS. Al-Maidah (5): 38 yang berbunyi

Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan dari apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari ALLAH…15 (QS. Al-maidah (5) 38)

Contoh lain adalah sabda Rasulullah Saw:

Telah dihalalkan bagi kami, du (macam) bangkai, yaitu bangkai ikan dan belalang. (QS. Al-Maidah (5): 3)

Hadis ini mentaqyidkan ayat Alquran yang mengharamkan semua bangkai dan darah, sebagaimana firman Allah Swt:

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, dan daging babi…(QS.Al-Maidah (5): 3)

Sedangkan contoh hadis yang berfungsi untuk men-takhshish keumumam ayat-ayat Alquran, adalah :

Kami para nabi tidak meninggalkan harta warisan.

Nabi Saw bersabda: “Tidaklah orang muslim mewarisi dari orang kafir, begitu juga kafir tidak mewarisi dari orang muslim.

 

Kedua hadis tersebut mentakhshishkan keumuman ayat:Allah mensyariatkan bagimu tentanf (pembagian pusaka) anak-anakmu, yaitu: bagian anak laki-laki dengan bagian anak perempuan…(QS. Al-Nisa(4) :11). (Izzan & Nur,2011:31-33)

 

  1. Bayan al-tasyri

Bayan al-tasyri adalah mewujudkan suatu hukum atau ajaran-ajaran yang tidak didapati  dalam alquran, atau dalam alquran hanya terdapat pokok-pokoknya (ashl) saja. Abbas Mutawali Hammadah juga menyebut bayan ini dengan “zaid ‘ala al-kitab al-karim”. 18 Hadis Rasul Saw dalam segala bentuknya (baik yang qauli, fi’li maupun taqriri) berusaha menunjukan suatu kepastian hukum terhadap berbagai persoalan yang muncul  yang tidak terdapat dalam alquran. Ia berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan ole para sahabat atau yang tidak diketahuinya, dengan menunjukan bimbingan dan menjelaskan duduk persoalannya.

Hadis-hadis Rasululla Saw yang termasuk kedalam kelompok ini, diantaranya hadis tentang penetapan haramnya mengumpulkan dua wanita bersaudara (antar istri dengan bibinya), hukum syuf’ah, ukum merajam pezina wanita yang masih perawan, dan hukum tentang hak waris bagi seorang anak. Suatu contoh adis tentang zakat fitrah,sebagai berikut:

“Bahwasanya Rasul Saw mewajibkan zakat fitrah kepada umat islam pada bulan ramadhan satu sukat (sha) kurma atau gandum untuk setiap orang, baik merdeka atau hamba, laki-laki atau perempuan muslim .(HR.Muslim)

Hadis Rasul Saw yang termasuk bayan al-Tasyri ini, wajib diamalkan sebagaimana kewajiban mengamalkan hadis-hadis lainnya. (Izzan & Nur,2011:33-34)

 

  1. Bayan al-Naskh

Kata nasakh secara bahasa berarti ibthal (membatalkan), izalah (menghilangkan), tahwil (memindahkan) dan taghyir (mengubah). Para ulama mengartikan bayan al-nasakh  ini banyak yang melalui pendekatan bahasa, seingga diantar mereka terjadi perbedaan pendapat dalam menta’rifkannya. Termasuk perbedaan pendapat antara ulama mutaakhkhirin dengan ulam mutaqaddimin. Menurut pendapat yang dapat dipegang dari ulama mutaqaddimin, bawa terjadinya nasakh ini karena adanya dalil syara’ yang mengubah suatu hukum (ketentuan) meskipun jelas, karena telah berakir masa keberlakuannya serta tidak bisa diamalkan lagi, dan syari’ (pembuat syari’at) menurunkan ayat tersebut tidak diberlakukan selama-lamanya (temporal).

Jadi,intinya ketentuan yang datang kemudian tersebut menghapus ketentuan yang datang terdahulu, karena yang terakhir dipandang lebih luas dan lebih cocok dengan nuansanya. Ketidakberlakuan suatu huku (naskh wa al-mansukh) harus memenuhi syarat-syaratnya yang ditentukan, terutama syarat ketentuan adanya naskh dan mansukh. Pada akhirnya, hadis sebagai ketentuan yang datang kemudian dari apa alquran dapat menghapus ketentuan dan isi kandungan alquran. Demikian menurut pendapat para ulama yang menganggap adanya fungsi bayan al-nasakh. Kelompok yang membolehkan adanya nasakh jenis ini adalah Golongan Mu’tazilah,Hanafiyah dan Mazhab Ibn Hazm al-Dhahiri.

Hanya saja Mu’tazilah membatasi fungsi nasakh ini hanya berlaku untuk hadis-hadis yang mutawatir. Sebab al-kitab itu nasakhnya diriwayatkan secara mutawatir(mutawatir lafdzi). Sementara Golongan Hanafiyah yang dikenal agak longgar dalam hal naskh Alquran dengan sunah ini, tidak mensyaratkan hadisnya mutawatir, bahkan hadis masyhur (yang merupakan hadis ahad )pun juga bisa menasakh hukum sebagian ayat Alquran. Bahkan Ibnu Hazm sejalan dengan adanya naskh kitab dengan sunah ini meskipun hadis ahad. Ibnu Hazm memandang bahwa naskh termasuk bagian bayan alquran.

Salah satu contoh yang biasa diajukan oleh para ulama ialah hadis yang berbunyi:

“Tidak ada wasiat bagi ahli waris “

Hadis ini menurut mereka menasakh isi firman Allah Swt.

Diwajibkan atas kamu, apabila seorang diantara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu bapa dan karib kerabatnya secara maruf (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertaqwa. (QS.Al-Baqarah (2): 180)

Sementara yang menolak nasakh jenis ini adalah Imam Syafi’i dan sebagian besar pengikutnya, meskipun nasakh tersebut dengan hadis yang mutawatir. Kelompok lain yang menolak adalah sebagian besar pengikut madzhab Zhahiriyah dan kelompok Khawarij. (Izzan & Nur,2011:34-35)

 

DAFTAR PUSTAKA

Sholahudin, M. Dan Agus Suryadi. 2011. “Ulumul Hadis”. Bandung: Pustaka Setia.

Dr. H Munzier Suparta M.A,2011.“Ilmu Hadist (edisi revisi)”.Jakarta:PT RAJAGRAFINDO PERSADA

Drs. H Ahmad Izzan,M.Ag & Saifuddin Nur,M.Ag.2011.”Ulumul Hadist”.Bandung:Humaniora.

NAMA : TINA ANJARWATI

PRODI : S1 PBS SEMESTER 1

KELAS : B

 

 

Catatan dosen

  1. Tema sudah masuk, isi juga sudah masuk.
  2. Ejaan masih perlu perbaikan.
  3. Plagiasi masih tercatat 39%. Ini karena banyak kutipan Quran dan Hadits.

 

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *