Karakteristik Islam dalam Sosial

Karakteristik ajaran Islam adalah suatu karakter yang harus dimiliki oleh umat muslim dengan berdasarkan Al-Quran dan Hadist. Kedua sumber ini telah menjadi pedoman hidup bagi setiap umat Islam. Ada banyak karakteristik yang dimili oleh umat Islam, yaitu karakteristik pendidikan, ilmu dan kebudayaan, politik, sosial, kesehatan, dan lain sebagainya. Dan yang akan saya bahas disini adalah tentang karakteristik Islam dalam Sosial.

Sebagai makhluk sosial manusia tak dapat hidup sendirian tanpa orang lain. Meskipun segalanya ia miliki, tetapi jika ia hidup sendirian tanpa orang lain ia akan kesepian dan tidak bahagia. Islam menjunjung kegiatan sosial seperti tolong-menolong, saling menasehati, kesabaran, tanggung jawab, disiplin, dan kegiatan sosial positif lainnya. Allah menciptakan sesuatu secara berpasang-pasangan, ada lelaki wanita, pejabat rakyat, kaya miskin, dst. Manusia diberikan kekurangan dan juga kelebihan oleh Allah. Tujuannya yaitu untuk saling memperbaiki satu sama lain apabila terjadi kesalahan, saling menyempurnakan apabila ada kekurangan, dan saling memgingatkan untuk selalu berada di jalanNya.

Allah berfirman dalam Q.S Al Maidah 5:2 yang artinya : “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kabajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah amat berat siksa-Nya”.

Seorang muslim adalah saudara untuk muslim yang lainnya. Barangsiapa yang membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan membantunya. Dan barangsiapa yang memberikan jalan keluar dari kesulitan saudaranya, maka Allah akan memberikan jalan keluar bagi kesulitan-kesulitannya pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang menutupi aib saudaranya, maka Allah akan tutupi aibnya pada hari kiamat. (HR.Bukhari Muslim)

(Jalaluddin Rakhmat:1999,6) Seorang muslim sepatutnya mengikuti dengan sepenuhnya etika komunikasi dalam Islam yang merupakan pengamalan ajaran Islam. Banyak diantara kita melupakan prinsip etika dalam berkomunikasi. Deangan menyebarkan selebaran yang isinya fitnah, umpatan atau upaya mengadu-domba di antara sesama bangsa. Atau memuat berita yang belom jelas kebenarannya. Kita juga dibingungkan oleh bermacam informasi sehingga limbung dalam mengambil keputusan. Memelihara kebebasan pers dengan berpegang teguh pada kaidah-kaidah etika, lebih baik bila kaidah-kaidah etika itu ditegaskan diatas Al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW.

Saat ini moral dan etika kaum muslimin banyak yang dianggap sebelah mata oleh agama lainnya. Akibat dari demokrasi politik kaum muslim yang memprovokasi kelompoknya untuk menyerang kelompok lain yang dianggap berbeda dan tidak satu fikiran dan tujuan maka terjadilah serang-menyerang,bakar-bakaran dan tindakan keji lainnya yang tidak baik dan dapat menimbulkan korban jiwa. Seperti kejadian 4 November yang sedang terjadi di negri ini. Menurut saya itu bukan mutlak kasus penistaan agama saja tetapi ada unsur politik di dalamnya.

Kita sebagai umat muslim tidak boleh memandang rendah suku,agama, ras, bangsa dan budaya apalagi tidak menghormati dan membenci  bahkan menghina agama lain. Indonesia merupakan negara yang terdiri dari berbagai suku, ras, budaya dan agama yang beraneka ragam dengan sifat dan karakteristik sosial dan budaya yang berbeda-beda dari setiap penjuru nusantara. Seperti yang terdapat dalam pancasila sila ketiga yang berbunyi “Persatuan Indonesia” yang berarti bahwa Indonesia harus bersatu walaupun dari daerah dan karakter yang berbeda beda. Perbedaanlah yang menyatukan kita dan kita dipersatukan oleh perbedaan yang indah.

Nilai-nilai toleransi harus ditanamkan sejak dini untuk peserta didik yang sedang ada dijenjang pendidikan tinggi. Sosialisasi niai-nilai toleransi semakin penting ditekankan sebab dilihat dari perkembangan moralnya peserta didik telah berada pada tahapan prakonvensional yaitu suatu tahanpan dimana seseorang telah memiliki sikap krittis dalam menerima nilai-nilai yang ada dalam masyarakat yang sudah menemukan nilai-nilai yang sudah dianggap berlaku universal. Kedekatan sosial yang relevan dalam tahapan seperti ini adalah bersifat biologis dan partisipatoris dimana peserta didik dilibatkan dalam proses penemuan nilai-nilai. (arifin:2001,77)

(Sumaatmadja:1961,12) lmu-ilmu sosial adalah semua bidang ilmu pengetahuan mengenai manusia dalam konteks sosial atau sebagai anggota masyarakat. Dan (P.J Bouman:1961,13) mendefinisikan ilmu sosial sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari hubungan sosial antarmanusia, antar manusia dan kelompok manusia, serta sifat dan perubahan dari bangunan dan buah pikir sosial. Objek dari ilmu-ilmu sosial dalam masyarakat manusia selalu berubah-ubah dikarenakan sifat masyarakat yang selalu berubah-ubah.

(Sidi Gazalba:2000,14) Perubahan sosial membawa kepada perubahan kebudayaan. Perubahan sosial mungkin karena perubahan sistem kemasyarakatan, mungkin pula karna perubahan lembaga-lembaganya. Dalam kehidupan sehari-hari sukar untuk menarik batas-batas perubahan sosial dan kebudayaan, karena batas antara sosial dan kebudayaan sangat kabur

(Sidi Gazalba:2000,44) revolusi sosial adalah perubahan-perubahan cepat lembaga-lembaga masyarakat yang jadi asas atau tiang-tiang pokok kehidupan masyarakat. Biasanya revolusi didahului oleh ketidakpuasan didahului oleh tersebarnya ide baru. Ia dapat dijalankan dengan atau tanpa kekerasan. Kalau ia dijalankan dengan kekerasan maka ia didahului oleh pemberontakan atau perebutan kekuasaan.

 

 

 

Dafar pustaka:

 

Khaeroni.2001.”islam dan hegemoni sosial”.Jakarta:PT.MediaCita

Amir,Mafri.1999.Etika komunikasi Massa dalam Pandangan Islam.Bandung:

Gazalba,Sidi.2000.Islam dan Perubahan SosioBudaya.Jakarta:PustakaAlhusna

Kodir,KokoAbdul.Metodologi Studi Islam.

 

Catatan

  1. Sudah menjawab pertanyaan
  2. Penulisan catatan perut kurang pas. Harusnya di belakang, bukan di depan.
  3. Plagiasi hanya 7%.

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *