Karakter Islam dalam Budaya

KARAKTER ISLAM DALAM BUDAYA
Tugas Ini Disusun Guna Memenuhi Tugas Ujian Tengah Semester
Mata Kuliah Metodologi Studi Islam
Dosen Pengampu:
M. Nasrudin, M.H.

Disusun Oleh:
Despy Sri Wahyu Kuntari (1602100021)

Kelas/Semester :A/1

J U R U S A N SYARIAH
PROGRAM STUDI S1 PERBANKAN SYARI’AH (PBS)
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) JURAI SIWO METRO
TA. 2016/2017

 

KARAKTER ISLAM DALAM BUDAYA
Manusia adalah makhluk Allah, yang diciptakan di dunia ini sebagai khalifah. (Rosihon: 2009, 128) Manusia lahir, hidup, dan berkembang di dunia sehingga disebut juga sebagai makhluk duniawi. Sebagai makhluk duniawi, sudah tentu bergumul dan bergulat dengan dunia terhadap segala segi, masalah dan tantangannya, dengan menggunakan budi dan dayanya serta menggunakan segala kemampuan baik bersifat cipta, rasa, maupun karsa. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan manusia dengan dunia tidaklah selalu diwujudkan dalam sikap pasif, pasrah, dan menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungannya. Akan tetapi, justru harus diwujudkan dalam sikap aktif, memanfaatkan lingkungan untuk kepentingan hidup dan kehidupannya. Dari hubungan yang bersifat aktif itu, tumbuhlah kebudayaan. (Muhaimin: 2009, 306)

Karakteristik ajaran Islam dalam bidang ilmu dan kebudayaan bersikap terbuka, akomodatif, tetapi juga selektif. Dari satu segi Islam terbuka dan akomodatif untuk menerima berbagai masukan dari luar, tetapi bersamaan dengan itu Islam juga selektif, yakni tidak begitu saja menerima seluruh jenis ilmu dan kebudayaan, melainkan ilmu dan kebudayaan yang sejalan dengan Islam. Dalam bidang ilmu dan teknologi, Islam mengajarkan kepada pemeluknya untuk bersikap terbuka atau tidak tertutup. Sekalipun kita yakin bahwa islam itu bukan Timur dan bukan Barat, ini tidak berartikita harus menutup diri dari kedua. Bagaimana, Islam adalah sebuah pradigma terbuka, ia merupakan mata rantai peradaban dunia. Dalam sejarah kita melihat Islam mewarisi peradaban Yunani-Romawi di Barat, dan peradaban-peradaban Persia, India, dan Cina di Timur. Selama abad VII sampai abad XV, ketika peradaban besar di Barat dan Timur itu tenggelam dan mengalami kemerosotan, Islam bertindak sebagai pewaris utamanya untuk kemudian diambil alih oleh peradaban Barat sekarang melalui Renaissans. Jadi dalam bidang ilmu dan kebudayaan Islam nebjadi mata rantai yang penting dalam sejarah peradaban dunia. Dalam kurun waktu selama delapan abad itu, Islam bahkan menggembangkan warisan-warisan ilmu pengetahuan dan teknologi dari peradaban-peradaban tersebut. (Abduddin Nata: 1998, 85)

Banyak contoh yang dapat dijadikan bukti tentang peranan Islam sebagai mata rantai peradaban dunia. Islam misalnya mengembangkan matematika India, ilmu kedokteran dari Cina, sistem pemerintahan dari Persia, logika Yunani, dan sebagainya. Tentu saja dalam proses peminjaman dan pengembangan itu terjadi dialetika internal. Jadi untuk pengkajian tersebut Islam menolak logika Yunani yang sangat rasional untuk digantikan dengan cara berpikir intuitif yang lebih menekankan rasa yang dikenal dalam tasawuf. Dan dengan proses ini pula Islam tidak sekedar mewarisi tetapi juga melakukan enricbment dalam substansi dan bentuknya. Melalui inilah Islam mampu menyumbangkan warisan-warisannya sendiri yang otentik. (Kuntowijoyo: 1991, 290-291) Melalui karya S. I. Poeradisastra berjudul Sumbangan Islam Kepada Ilmu Peradaban Modern, kita dapat memperoleh informasi yang agak lengkap mengenai peranan yang dimainkan Islam dalam membangun ilmu pengetahuan dan peradaban modern, baik beerkenaan dengan ilmu alam, tehnik dan arsitektur, maupun pengetahuan sosial, filsafat, sastra, kedokteran, matematika, fisika, dan sebagainya. (Poeradisastra: 1988, 4-70).

Karakteristik Islam dalam bidang pengetahuan dan kebudayaan tersebut dapat pula dilihat dari lima ayat pertama surat al-Alaq yang diturunkan Tuhan kepada Nabi Muhammad SAW. Pada ayat tersebut terdapat kata iqro’ yang diulang sebanyak dua kali. Kata tersebut menurut A. Baiquni, selain berarti membaca dalam arti biasa, juga berarti menelaah, mengobservasi, membandingkan, mengukur, mendeskripsikan, menganalisis, dan penyimpulan secara induktif. (Poeradisastra:1986, 4-70). Semua cara tersebut dalam digunakan dalam proses mempelajari sesuatu. Hal itu merupakan salah satu cara yang dapat mengembangkan ilmu pengetahuan. Islam demikian kuat mendorong manusia agar memiliki ilmu pengethauan dengan cara menggunakan akalnya untuk berfikir, merenung, dan sebagainya. Demikian pentingnya ilmu ini hingga Islam memandang bahwa orang menuntut ilmu sama nilainya dengan jihad dijalan Allah. Islam menempuh cara demikian, karena dengan ilmu pengetahuan tersebut seseorang dapat meningkatkan kualitas dirinya untuk meraih berbagai kesempatan dan peluang. Hal demikian dilakukan Islam, karena informasi sejarah mengatakan bahwa pada saat kedatangan Islam ditanah Arab, masalah ilmu pengetahuan adalah milik kaum elit tertentu yang tidak boleh dibocorkan kepada masyarakat umum. Hal demikian sengaja dilakukan agar masyarakat tersebut bodoh yang selanjutnya mudah dijajah, diperbudak dan disimpangkan keyakinannya serta diadu domba. Keadaan tersebut tak ubahnya dengan kondisi yang dialami masyarakat di indonesia pada zaman penjajahan belanda. (Abuddin Nata: 1998, 87)

 

DAFTAR PUSTAKA
Prof. Dr. H. Abuddin Nata, M.A. 2012, Metodologi STUDI ISLAM, Jakarta:Rajawali Pers.
Prof. DR. Rosinoh Anwar, M.Ag. 2009, Pengantar STUDI ISLAM, Bandung: Pustaka Setia.
Prof. Dr. H. Mahmud, M.Si. 2014, METODOLOGI STUDI ISLAM, Bandung: Pustaka Setia.

 

 

Catatan

  1. Sudah menjawab pertanyaan.
  2. Sayangnya plagiasi 46%.

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *