Karakter Islam dalam Bidang Muamalah

Muamalah adalah interaksi manusia dalam mewujudkan kepentingannya masing-masing dalam pergaulan hidupnya sehari-hari, seperti jual-beli, gadai-mengadai, pinjam-meminjam, sewa-menyewa, berdagang, berbagi hasil usaha, pengairan pertanian, dan berbagai ragam bentuk kerja (amal) yang berkembang terus sejalan dengan perkembangan budaya masyarakat dari waktu ke waktu. Istilah muamalah sendiri lebih mengacu kepada suatu ibadah.
Muamalah dapat dibedakan menjadi dua yaitu:
a) Muamalah dalam arti luas adalah aturan-aturan Allah untuk mengatur manusia dalam kaitannya dengan urusan duniawi dalam pergaulan sosial
b) Muamalah dalam arti sempit adalah aturan-aturan Allah yang wajib ditaati yang mengatur hubungan manusia dengan manusia dalam kaitannya dengan cara memperoleh dan pengembangkan harta benda

Ruang lingkup hukum muamalah secara umum yakni: Harta, Hak Milik, jual beli (Buyu’), tentang pegadaian (Ar-Rahn), pengalihan hutang (Hiwalah), perdamaian bisnis (Ash-Shulhu), jaminan asuransi (Adh-Dhaman), tentang perkongsian (Syirkah), tentang per-wakilan (Wakalah), tentang penitipan (Wadi’ah), tentang peminjaman (‘Ariyah), hukum keluarga (akhwalus syakhsiyah), hukum privat (ahkamul al-madaniyah), hukum pidana (ahkamul jinaiyah), hukum acara (ahkamul murafa’at), hukum perundang-undangan (ahkamul dusturiyah), hukum internasional (ahkamul dauliyah), dan hukum ekonomi dan keuangan(ahkamul iqtishadiyah-maliqiyah). (Rois Mahfud:2003,35)
Islam mengatur dalam hal bermualah:
jual beli ialah menukar suatu barang/uang dengan barang yang lain dengan cara aqad (ijab/qobul).
Rukun jual beli
1) Adanya penjual dan pembeli.
Syaratnya: berakal, dengan kehendak sendiri (tidak di paksa), tidak mubazir, & balig.
2) Uang dan benda yang dibeli.
Syaratnya:
a) Barang itu harus suci, barang yang najis tidak sah di perjualbelikan, seperti, kulit binatang atau bangkai yang belum dimasak.
b) Barang yang di perjualbelikan harus ada manfaatnya.
c) Barang itu dapat di serahkan. Tidak sah menjual suatu barang yang tidak dapat diserahkan kepada si pembeli, contohnya membeli ikan dalam laut, barang yang sedang dijaminkan.(barang tersebut mengandung kecohan)
d) Barang tersebut merupakaan kepunyaan si penjual.
e) Barang tersebut diketahui oleh si penjual maupun si pembeli. Baik dalam segi zat, bentuk, kadar, dan sifatnya jelas sehingga tidak akan terjadi kecoh–mengkecoh.

3) Adanya ijab dan kabul
Ijab adalah perkataan si penjual, contohnya: ”saya akan menjual barang ini kepadamu dengan harga sekian”. Kabul adalah ucapan si pembeli, contohnya: “saya terima, saya beli dengan harga sekian”.
Apabila syarat dan rukunya kurang maka jual beli dianggap tidak sah.
Contoh jual beli yang dilarang dalam islam
1. Perdagangan yang tercampur sumpah dan omong kosong
Maksudnya pedangan melakukan sumpah dengan memuji barang dagangannya dengan tujuan untuk menarik minat si pembeli agar membeli barang dagangannya tersebut.
2. Menjual buah-buahan sebelum masak
Hal ini dilarang karena buah yang masih kecil sering rusak atau busuk sebelum matang. Dapat menimbulkan kerugian baik si pembeli maupun si penjual.
3. Jual beli yang disertai tipuan, baik pada pembeli maupun si penjual, pada barang ataupun ukuran dan timbangannya.(Muhammad Nashirudin Al-Albani:2007,552)
Jual beli yang sah, tetapi dilarang
Adanya larangan dikarenakan akan menjadi sebab timbulnya menyakiti penjual,pembeli, atau orang lain. Serta dapat menyempitkan gerakan pasaran dan merusak ketentraman umum.
1. Membeli barang dengan harga yang lebih mahal dari pada harga di pasaran, dengan tujuan semata-mata agar orang lain tidak dapat membeli barang itu.
2. Mencegat orang-orang yang datang dari desa yang akan berdagang di kota, lalu membeli barang dagangannya sebelum mereka sampai di pasar dan belum mengetahui harga pasar.
3. Membeli barang dalam jumlah bayak dan untuk di tahan agar dapat dijual dengan harga yang lebih mahal, padahal masyarakat membutuhkan barang tersebut.
Hukum jual beli
1. Mubah (boleh), merupakan asal hukum jual beli
2. Wajib, contohnya ketika wali ingin menjual harta anak yatim dalam keadaan terpaksa serta barang itu merupakan harta yang mempunyai nilai lebih untuk menopang kebutuhan anak yatm tersebut.
3. Haram, barang-barang yang jelas di larang oleh agama.
4. Sunat, contohnya, melakukan jual beli dengan sahabat, saudara atau orang yang dikasihi. (Sulaiman Rasjid:2012,289-290)

Ahlak bermuamalah
Dalam melakukan transaksi muamalah hendaknya seorang muslim harus mengetahui dan memilik ahlak yang mencerminkan bahwa ia adalah seorang muslim yakni:
1. Shiddiq artinya mempunyai kejujuran dan selalu melandasi ucapan, keyakinan, dan amal perbuatan atas dasar nilai-nilai yang benar berdasarkan ajaran Islam.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw bersabda,
“Hendaknya kalian jujur (benar), karena kejujuran itu menggantarkan kepada kebaikan. Dan kebaikan akan mengantarkan ke dalam surga. Seseorang yang selalu berusaha untuk jujur akan dicatat oleh Allah sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kamu sekalian kidzb (dusta), karena dusta itu akan mengantarkan kepada kejahatan. Dan kejahatan akan mengantarkan ke dalam neraka. Seseorang yang selalu berdusta akan dicatat oleh Allah sebagai pendusta.” (HR Bukhari)

Dalam dunia kerja dan usaha, kejujuran ditampilkan dalam bentuk kesungguhan dan ketepatan baik ketepatan waktu, janji, pelayanan, pelaporan, mengakui kelemahan dan kekurangan (tidak ditutup-tutupi), serta menjauhkan diri dari berbuat bohong dan menipu.

2. Istiqamah mempunyai arti konsisten dalam iman dan nilai-nilai yang baik, meskipun menghadapi berbagai godaan dan tantangan. Istiqomah dalam kebaikan ditampilkan dalam keteguhan dan kesabaran serta keuletan sehingga menghasilkan sesuatu yang optimal

3. Fathanah mempunyai arti mengerti, memahami, dan menghayati secara mendalam segala yang menjadi tugas dan kewajibannya.

4. Amanah, mempunyai arti bertanggung jawab dan dapat dipercaya dalam melaksanakan setiap tugas dan kewajibannya.

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesugguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesunggunya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (an-Nisa:58)

5. Tablig yaitu mengajak sekaligus memberikan contoh kepada pihak lain untuk melaksanakan ketentuan-ketentuan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Tablig yang disampaikan dengan hikmah, sabar, argumentatif, dan persuasif akan menumbuhkan hubungan kemanusiaan yang semakin solid dan kuat.
(Didin Hafidhuddin:2003,36-38)

Rujukan.
Didin Hafidhuddin.2003.Islam Aplikatif.Jakarta:Gema Insani
Rois Mahfud.2003.Al-Islam Pendidikan Agama Islam.Jakarta:Erlangga
Sulaiman Rasjid.2012.Fiqih Islam.Bandung:Sinar Baru Algensindo
Muhammad Nashirudin Al-Albani.2007.Shahih Sunan Abu Daud.Jakarta:Puataka Azzam

 

Catatan

  1. Tulisan sudah sesuai tema, tetapi terlalu menjurus ke jual-beli, bukan ke muamalah.
  2. Plagiasi 22%

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *