Fungsi Agama Islam dalam Kehidupan Masyarakat

 

Agama merupakan kewajiban bagi setiap manusia, karena manusia adalah makhluk sosial yang lahir, hidup dan mati dalam masyarakat. Kehidupan sosial tentu menimbulkan interaksi sosial yang akan melahirkan hak dan kewajiban. Manusia tidak dapat melakukan kebebasan yang berlebihan di tengah-tengah masyarakat dan tidak dapat bertindak semaunya saja, karena akan mengganggu kebebasan dan keinginan orang lain. Misalnya setiap orang diberikan kebebasan mutlak, tentu tindakannya itu akan membatasi kebebasan orang lain. Ia akan mengutamakan dirinya terlebih dahulu, karena manusia bersifat mencintai dirinya yang berlebihan. Kadang-kadang cinta diri itu mendorong orang mengambil hak kebebasan saudaranya, hal itu akan merusak ketentraman masyarakat dan akan mengakibatkan kehancuran. Untuk itu masyarakat harus memiliki undang-undang dan norma-norma dalam segala urusan sehingga orang tidak akan melanggar hak orang lain.

Setiap orang akan menyadari hak dan kewajibannya seperti interaki sosial diatur berdasarkan kebaikan, keadilan, dan kemaslahatan bersama bukan untuk seseorang atau sekelompok tertentu saja. Undang-undang itu tidak ditaati oleh seorang atau sekelompok orang saja, tetapi seluruh masyarakat yang menyadari akan undang-undang tersebut. Kepatuhan kepada undang-undang dengan paksaan seperti kekerasan hanya berlaku sementara, suatu saat akan terjadi masalah, tidak akan berhasil bila pembuat undang-undang tidak mendasarkannya kepada wahyu ilahi yang membuat semua orang tunduk dan patuh secara sadar. Agamalah yang mampu membuat undang-undang yang benar dan tepat untuk mengatur kehidupan yang aman, tentram, terhormat, dan bahagia secara merata.

Berpegang teguh pada prinsip agama yang melahirkan kesejahteraan dan kebahagiaan individu maupun masyarakat dengan kehidupan yang terhormat. Agama menyuruh bergaul dan menolong orang miskin, anak yatim, dan orang yang lemah dengan membantu mereka dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Minta izin diwaktu masuk kerumah orang lain, tidak boleh menghina, mencari-cari kelemahan orang.

Ruang lingkup akhlak Islam sangat luas mencakup segala tindakan yang mendatangkan kemaslahatan umum, seperti tidak membuang duri dijalanan, berkata baik, lemah lembut, berseri muka ketika bertemu orang dan semua itu dianggap sedekah. Hal tersebut dapat mempersatukan hati antar pribadi, sehingga terciptalah masyarakat yang utuh, berwibawa, dan disegani, baik dari dalam maupun dari luar (Ahmad: 2008, 11-13).

Menurut Nasution fungsi agama dapat dibagi sebagai berikut :

  1. Agama merupakan sumber moral
  2. Agama merupakan pedoman dan petunjuk kebenaran
  3. Agama sebagai jalan hidup
  4. Agama sebagai pandangan dan bimbingan (filsafah hidup)
  5. Agama merupakan sumber informasi tentang masalah metafisika
  6. Agama memberikan bimbingan rohani bagi manuisia baik dikala suka maupun duka

Secara sosiologis, agama memiliki fungsi sosial yang menyangkut pola hubungan sosial antara manusia, dapat dilihat dari pengaruhnya seperti pengaruh yang bersifat positif atau pengaruh yang menyatukan (integrative factor) dan pengaruh yang bersifat negatif atau pengaruh yang bersifat destruktif dan memecah belah (desintegrative factor) (Hasanah: 2013, 16).

Hidup beragama Islam sesuai dengan martabat manusia sebagai makhluk yang tertinggi di muka bumi, dan bagi manusia yang berakal. Orang yang tidak berakal sehat tidak memerlukan agama, jika mereka beragama namun tidak bermanfaat bagi mereka. Mereka yang mengingkari agama adalah orang yang mendustakan hati nuraninya sendiri. Agama dapat membuka kepribadian manusia tentang asal, tujuan dan apa yang harus dilakukan. Agama berperan penting dalam pembentukan watak (Rofiq: 2006, 44).

 

Daftar Pustaka

Ahmad, Muhammad Abdul Qadir. Metodologi Pengajaran Agama Islam. Jakarta: Rineka Cipta, 2008

Hasanah Hasyim. Pengantar Studi Islam. Yogyakarta: Ombak, 2013

Aminuddin, Wahid Aliaras, Rofiq Moh. Membangun Karakter dan Kepribadian melalui Pendidikan Agama Islam. Yogyakarta: Graha Ilmu, 2006

 

Risa Wahyu Pratiwi semester I kelas B prodi S1 PBS

 

 

Catatan dosen

  1. Tulisan sudah sesuai dengan tema. Konten sudah lumayan.
  2. Plagiasi hanya 4%.
  3. (Rofiq: 2006, 44) tidak sinkron dengan daftar pustaka ==> Aminuddin, Wahid Aliaras, Rofiq Moh. Membangun Karakter dan Kepribadian melalui Pendidikan Agama Islam. Yogyakarta: Graha Ilmu, 2006

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *