Epistemologi Wahyu dalam Islam

EPISTEMOLOGI WAHYU
Tugas Ini Disusun Guna Memenuhi Tugas Ujian Tengah Semester
Mata Kuliah Metodologi Studi Islam
Dosen Pengampu:
M. Nasrudin, M.H.

Disusun Oleh:
Khairul Fikri (1602100039)

Kelas/Semester :A/1

J U R U S A N SYARIAH
PROGRAM STUDI S1 PERBANKAN SYARI’AH (PBS)
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) JURAI SIWO METRO
TA. 2016/2017

Epistemologi adalah salah satu cabang filsafat yang membahas tentang hakikat pengetahuan manusia.
Salah satu hal penting dalam pengembangan keilmuan adalah kajian tentang epistemologi. Seperti ditulis Ali Syariati, pengetahuan benar tidak bisa lahir kecuali cara berpikir yang benar, sedang dengan cara berpikir itu sendiri hanya bisa muncul dari epistemologi yang benar. (Syariati: 1992, 28). Karena itu, Hasan Hanafi menganggap epistemologi sebagai penyebab hidup matinya filsafat dan pemikiran. Siapa yang tidak bisa menguasai metodologi atau yang dalam kajian filsafat disebut epistemologi, ia tidak akan mampu menggembangkan pengetahuannya (Sadr: 1999, 25).

Dalam masalah ini ada dua aliran epistemologi yang sangat berpengaruh dan dijadikan pegangan yaitu, rasionalisme dan empirisme. Kedua aliran ini dianggap sebagai prinsip dan pilar utama metode keilmuan modern. Segala sesuatu diukur dan dinilai berdasarkan dua prinsip ini. Sesuatu pandangan yang tidak memenuhi dua kriteria tersebut tidak dianggap sebagai ilmiah (Mason: 1962, 117). Ini memang dapat diterima. Akan tetapi ketika kedua prinsip tersebut diterapkan dalam khazanah keilmuan Islam, muncul persoalan mendasar. Pertama, secara ontologis, metode keilmuan yang mengedepankan prinsip empirisitas menjadi tidak berkaitan dan bahkan menolak dunia transenden, seperti alam malakut atau alam ghaib, karena semua itu tidak bisa dibuktikan dan tidak dapat di observasi secara empirik (Sardar: 1989,75). Ini jelas berbeda dengan pemahaman Islam yang justru menyakini adanya dunia transenden dan bahkan menganggapnya sebagai yang lebih nyata dan riil. Kedua, secara metodologis, karena sifatnya yang yang lebih menekankan aspek rasionalitas, metodologi ilmiah secara pasti dan menyakinkan telah menyingkirkan wahyu sebagai salah satu sumber pengetahuan bahkan mereduksi wahyu pada tingkat semata-mata khayalan dan dongeng. Hal ini jelas bertentangan dengan keilmuan dan peradaban Islam yang justru mengklaim wahyu (Al-Qur’an) sebagai sesuatu yang sentral dan merupakan sumber ilmu pengetahuan.

Berdasarkan kenyataan tersebut, secara instrinsik, metode keilmuan modern beraerti tidak memadai untuk membedah studi-studi ilmu keislaman yang senantiasa terilhami dan berkaitan dengan wahyu, juga tidak bisa diandalkan sebagai epistemologi yang dibutuhkan masyarakat yang mempunyai spiritualitas. Artinya disini dibutuhkan epistemologi lain yang berpijak pada kekuatan nalar tanpa harus menafikan otoritas wahyu dan meniadakan realitas non-fisik. Begitupula sebaliknya, epistemologi yang beranjak dari wahyu tapi tanpa menghilangkan fungsi dan kekuatan nalar serta tanpa menafikan realitas empirik.

Dalam kebutuhan ini, Al-Farabi (870-950M) seorang tokoh filsafat Islam klasik ternyata telah memberikan pemecahan masalah tersebut. Antara lain, ia memecahkan masalah dualisme wahyu dan rasio lewat konsep intelek aktif. Intelek inilah yang dianggap sebagai sumber pengetahuan yang membawahi wahyu dan rasio (Farabi: 1962, 44). Tokoh lain adalah Ibn Rusyd (1126-1198) yang dikenal sebagai komentator Aristoteles. Menurutnya, pengetahuan dapat bersumber pada rasio atau wahyu. Keduanya tidak bertentangan melainkan saling melengkapi dan membutuhkan (Ibn Rusyd: 1978, 117).

Akan tetapi ini berkaitan dengan khazanah keilmuan Islam yang tidak lepas dari persoalan wahyu atau teks suci, maka kajian epistemologi dalam pembahsan ini juga dikaitkan dengan masalah tersebut, dan disinilah justru nilai penting dari kajian ini. Seperti ditulis Sari Nusaybh, bahwa salah satu kajian penting dalam epistemologi Islam adalah masalah hubungan antara pengetahuan manusia dan pengetahuan Tuhan, antara rasio dan wahyu dan antara filsafat dan agama (Nasr: 1996, 824).

Kajian tentang epistemologi pemikiran Al-Farabi dan Ibn Rasyd ini didasarkan atas tiga model epistemologi islam, yaitu Bayani, Burhani, dan Irfani. Bayani adalah sebuah bentuk epistemologi yang didasarkan atas otoritas teks (nash), secara langsung atau tidak langsung. Secara langsung artinya memahami teks sebagai pengetahuan jadi dan langsung mengaplikasikan tanpa perlu pemikiran. Secara tidak langsung berarti memahami teks sebagai pengetahuan mentah sehingga perlu tafsir dan penalaran (Jabiri: 1990, 38). Untuk mendapatkan pengetahuan dari teks, metode bayani menempuh dua jalan. Pertama, berpegang padaredaksi (lafad) teks, dengan menggunakan kaidah bahasa arab, seperti nahw dan sharaf. Kedua, menggunaka metode qiyas (analogi).

Irfani adalah bentuk epistemologi dalam islam yang mendasarkan diri pada kasyf, tersingkapnya rahasia-rahasia realitas oleh Tuhan. Karena itu, pengetahuan irfani tidak diperoleh berdasarkan analisa teks tetapi dengan olah ruhani, dimana dengan kesucian hati, diharapkan tuhan akan melimpahkan langsung kepadanya. Masuk salam pikiran, dikonsep kemudian dikemukakan kepada orang lain secara logis. Untuk mendapatkan pengetahuan, metode irfani menggunakan tiga tahap, persiapan, penerimaan, pengungkapan, dengan lisan ataupun tulisan.

Sementara itu itu, Burhani adalah bentuk epistemologi islam yang mendasarkan pada kekuatan rasio, akal, yang dilakukan lewat dalil-dalil logika. Selanjtnya, untuk mendapatkan sebuah pengetahuan, burhani menggunakan aturan silogisme (ibid). mengikuti Aristoteles penarikan kesimpulan dengan silogisme ini harus memenuhi beberapa syarat yaitu, mengetahui latar belakang dari penyusunan premis, adanya konsitensi logis antara alasan dan kesimpulan, kesimpulan ang diambil harus bersifat pasti dan benar, sehingga tidak mungkin menimbulkan kebenaran atau kepastian lain (ibid).

Berdasarkan pandangan al Farabi, wahyu yang disampaikan kepada nabi bersumber pada intelek aktif (al haql al-fa al), meski intelek aktif sendiri pada dasarnya adalah pancaran dari sebab perama (Tuhan). Kenyataan itu juga terjadi pada para filosof dan mistikus. Seperti diuraikan pada bab sebelumnya, seorang filosof, beranjak dari kesadaran intelektual dan pelatihan-pelatihan keras yang dijalaninya, mampu mencapai intelek perolehan (al- aql al-mustafat) dan akhirnya berhubungan dengan intelek aktif. Pengetahuan-pengetahuan filosofis mereka dapatkan dari pertemuannya dengan intelek aktif.

DAFTAR PUSTAKA
Prof. Dr. H. Mahmud, M.Si. 2014, METODOLOGI STUDI ISLAM, Bandung: Pustaka Setia.
Supena, Ilyas. 2007. Rekontruksi Epistemologi Ilmu-ilmu Keislaman. Yogyakarta: C.V.
pustaka Setia
kuntowijoyo. 2004. Islam sebagai Ilmu, Epistemologi, Metodologi, dan Etika.
Bandung;Teraju Mizan

 

Catatan

  1. Sebaiknya fokus saja pada epistemologi bayani atau wahyu.
  2. Plagiasi 39%

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *