Epistemologi Burhani dalam Islam

Al-Burhan dalam bahasa arab berarti argumentasi yang kuat dan jelas (Al-Hujjat Al-Fashilat Al-Bayinat). Dalam bahasa inggris dikenal dengan demonstration, bahasa latin Demosentrate yang berarti isyarat, sifat, keterangan dan menampakkan. Al-burhan juga dapat di maknai dengan pembuktian dengan tegas dan keterangan yang jelas,

Secara istilah Al-Burhan di artikan sebagai pengetahuan yang di peroleh dengan panca indra, percobaan, dan hukum logika, menggunakan pendekatan rasional argumentatif yang di dasarkan pada kekuatan rasio melalui instrument logika (induksi, deduksi, abduksi, simbolik, proses, dan lain sebagainya).

Dalam tradisi burhani tujuannya menetapkan aturan yang digunakan untuk menentukan cara kerja akal, mencapai kebenaran yang di perolehnya, mencapai pemikiran yang mendalam dan penalaran yang bersifat abstrak khususnya dalam memahami realitas sosial. (Hassyim Hasanah : 2003. 72-73)

Rasionalisme adalah faham filsafat yamg mengatakan bahwa akal (reason) adalah alat terpenting untuk memperoleh pengetahuan . Para tokoh aliran Rasionalisme diantaranya adalah Descartes (1596-1650 M), Spinoza (1632- 1677 M) dan Lebniz (1646-1716 M). Aliran Rasionalisme ada dua macam yaitu dalam bidang agama dan dalam bidang filsafat. Dalam bidang agama aliran Rasionalisme adalah lawan dari autoritas dan biasanya digunakan untuk mengkritik ajaran agama. Sedangkan dalam bidang filsafat Rasionalisme adalah lawan dari Empirisme dan sering berguna dalam menyusun teori pengetahuan ,

Rasionalisme mengajarkan bahwa pengetahuan diperoleh dengan cara berfikir. Zaman Modern dalam sejarah filsafat biasanya dimulai oleh filsafat Descartes .Tentu saja pertanyaan ini bermaksud untuk menyederhanakan permasalahan.. Kata modern ini hanya digunakan untuk menunjukkan suatu filsafat yang mempunyai corak berbeda , bahkan berlawanan. Modern yang dimaksud disini ialah dianutnya kembali kembali rasionalisme seperti pada masa Yunani Kuno, gagasan itu disertai oleh argument yang sangat kuat.

Descartes yang menyusun argumentasi yang kuat yang distinct, yang menyimpulkan bahwa dasar filsafat haruslah akal , bukan perasaan, bukan iman, bukan ayat suci, bukan juga yang lainnya. ( Drs.H.A.Fuad Ihsan : 2010.150-151)

Aliran rasional ini sangat mementingkan rasio dalam memutuskan atau menyelesaikan suatu masalah. Dalam aliran rasional rasio ini sangat mendambakan otak atau rasio sebagai satu-satunya yang menjadi alat untuk menyelesaikan masalah. Untuk memperoleh hasil yang sahih, dalam metodenya, Dercartes mengemukakan empat hal berikut ini :

  1. Tidak menerima suatu pun sebagai kebenaran , kecuali bila saya melihat hal itu sungguh-sungguh jelas dan tegas , sehingga tidak ada keraguan .
  2. Pecahkanlah setiap kesulitan atau masalah itu sebanyak mungkin , sehingga tidak ada keraguan apa pun yang mampu merobohkannya .
  3. Bimbinglah pikiran dengan teratur , dengan memulai dari hal yang aederhana dan mudah diketahui , kemudian secara bertahap sampai pada yang paling sulit dan kompleks.
  4. Dalam proses pencarian dan pemeriksaan hal-hal sulit, selamanya harus dibuat perhitungan-perhitungan yang sempurna serta pertimbangan-pertimbangan yang menyeluruh, sehingga kita yakin bahwa tidak ada satu pun yang mengabaikan atau ketinggalan dalam pejelajahan itu. (Drs.A..Susanto,M.Pd : 2011.36-37)

 

Sumber hukum islam yang ketia adalah ijtihad yang dilakukan dengan menggunakan akal atau ar-ra’yu. Posisi akal dalam ajaran islam memiliki kedudukan yang sangat penting. Allah SWT menciptakan akal manusia agar dipergunakan untuk memahami , mengembangkan dan menyempurnakan sesuatu, dalam hal ini adalah ketentuan-ketentuan dalam islam. Penggunaan akal untuk berijtihad telah dibenarkan oleh Nabi Muhammad SAW seperti yang terdapat pada Hadist Mu’az bin Jabal.

 

Ketentuan-ketentuan muamalat yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Hadist bersifat umum. Oleh karena itu, ayat dan hadist hukum yang menjadi objek ijtihad hanyalah yang zhanni sifatnya. Hazairin berpendapat, bahwa ketentuan yang berasal dari ijtihad ulil amri terbagi dua, yaitu sebagai berikut :

  1. Berwujud pemilihan atau penunjukan garis hukum yang setepat-tepatnya untk diterapkan pada suatu perkara atau kasus tertentu yang mungkin langsung diambil dari ayat-ayat hukum dalam Al-Qur’an.
  2. Ketentuan yang berwujud atau pembentukan garis hukum baru bagi keadaan-keadaan baru menurut tempat dan waktu, dengan berpedoman kepada kaidah hukum yang telah ada dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasul.

(Dr.GemalaDewi,S.H.,LL.M|Wirdyaningsih,S.H.,M.H.|Dr.YeniSalmaBarlinti,S.H.,M.H:2006.44-45)

 

Catatan

  1. Tema sudah nyambung.
  2. Peran epistemologi burhani dalam Islam kurang dielaborasi.
  3. Daftar pustaka tidak ada
  4. Plagiasi 27%.

 

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *