Epistemologi Bayani dalam Islam

Bayani adalah suatu kata yang berasal dari bahasa arab yaitu memisahkan dan penjelasan, kesimpulan latar belakang dari para ahli mereka banyak mencari mengenai makna al-qur’an dan memahami isi al-qur;an yang benar salahnya, yang semua lafdz, bacaan harus jelas. (http://khudorisoleh.blogspot.co.id/2009/11/epistemology-of-bayani.html)

Tujuan pendekatan ini memahami atau menganalisis teks guna menemukan makna kandungan lafdz, mengeluarkan makna zahir dari lafal dan ‘ibarah yang zahir dan istimbat hukum dan al-nusus an diniyah. Pendekatan ini merupakan penerapan analisis rasional filosofis dan analisis konteks, historis, sosio-antropologis dan politis ideologis. (hasanah: 2013, 72)

Bayani lebih dominana secara politis dan membentuk mainstream pemikiran keislaman yang hergomonik. Sebagai akibatnya pola pemikiran keagamaan islam model bayani menjadi kaku dan rigid. Otoritas teks dan otoritas alaf yang dibakukan dalam kaidah-kaidah meteodologi ushul fiqh klasik lebih diunggulkan dari pada sumber otoritas keilmuan yang lain seperti alam, akal dan intiusi. Dominasi pola pikir tekstul-ijtihadiyyah menjadi sistem epistimologi keagamaan islam kurang begitu peduli terhadap isu-isu keagamaan yang bersifat kontekstul-bahtsiyyah. Menurut hemat penulis, pengembangan pola pikir bayani hanya dapat dilakukan jika ia mampu memahami, berdialog dan mengambil manfaat sisi-sisi fundamental yang dimiliki oleh pola pikir irfani maupun,burhani dan lainnya. Jika nalar bayani tergantung pada kedekatan dan keserupaan teks atau nash dan realistis. (abdullah: 2012,203)

Tolak ukur validitas keilmuannya pun sangat berbeda dari nalar bayani dan nalar irfani. Jika nalar bayani tergantung pada kedekatan dan keserupaan teks atau nash dan realitas, dan nalar irfani lebih pada krematangan social skil (empati,simpati, verstehen). Fungsi dan peran akal bukannya untuk mengukuhkan kebenaran teks seperti yang ada dalam nalar bayani. Kerangka teori tawarut-al-tasdiqatl al-had-al-burhani, premis-premis logika (al-mantiq), tahlilu al-anasir al-asiyyah li tu’ida binar’ahu bi syaklim yubarizu ma jauhariyyun fihi, kualliy-juziy jauhar aradh. hubungan subjek dan objek yaitu objective dan objectiv rationalism. Prinsip-prinsip dasarnya adalah idrak al-asbab, al-hatmiyyah (kepastian) dan al-mutaharaqah.  (abdullah: 2012,214)

Metode qiyas yaitu model yang menerapakan tentang hukum dan nash dalam kaidah arab atau alat analisa, metode istimbath dalah mengenai tentang teks atau nash pada sebuah kebenaran sebuah kitab pendukung bayani yaitu ahli fikih, kalam dan agama. Validasi keilmuan bayani juga tergantung dengan kedekatan dan kesamaan teks atau nash serta realitas. Pada permasalahan mengenai ikatan lafadz dan isi pokok melalui dua aspek adalah teoris dan praktis, masalhnya mengenai asal bahasanya, analog bahasanya dan pemaknaanya.

(https://aagun74alqabas.wordpress.com/2011/04/05/epistemologi-bayani/)

Menurut para kalangan seorang banyak yang berpendapat bahwa epistimologi bayani ini banyak yang kurang rasional atau berfikir secara nyata karena hanya memperkerjakan akal itu sebagai alat utamanya sebagai penggali hukum-hukum dan ketentuan-ketentuan.

(http://www.tongkronganislami.net/2015/10/makalah-pengertian-epistemologi-bayani-irfani-burhani.html)

 

NAMA: IMROATUL HASANAH

NPM: 1602100034

METEODOLOGI STUDI ISLAM SEMSTER 1 KELAS B IAIN METRO LAMPUNG

 

Catatan

  1. Sudah menjawab pertanyaan
  2. Plagiasi 6%
  3. Daftar Pustaka belum ada.

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *