Cakupan Studi Islam

A. Ruang Lingkup Agama

Dalam pengertiannya, agama memiliki tiga dimensi atau ruang lingkup bahasan yang sangat umum yaitu : menyangkut aspek spiritual dalam artian menunjukkan hubungan antara manusia dengan Tuhan nya (pencipta), dan aspek horizontal yaitu hubungan manusia dengan manusia dan manusia dengan alam semesta termasuk didalamnya hewan dan tumbuhan serta lingkungan dimana manusia hidup dan menjalin hubungan sosial kemanusiaan.

Aspek spiritual berarti mewujudkan adanya ikatan yang harus dipegang dan ditaati oleh para penganutnya. Legalitas dari aspek spiritual terwujud dalam bentuk pengakuan terhadap keberadaan realitas mutlak, dan suatu kekuatan yang besar, dan agung di luar kekuatan manusia. Sedangkan aspek horizontal, lebih memberikan acuan secara sosial, mengenai bagaimana para penganut ajaran agam menjalin relasi secara positif dan harmonis dengan makhluk ciptaan lain yang hidup dan berkembang dalam realitas kehidupannya. Hubungan ini diatur secara sosial dengan aturan yang dibuat secara kolektif dengan komunitasnya. Pranata yang dibentuk tentunya memiliiki kekuatan hukum secara sosial untuk mewujudkan keteraturan hidup yang lebih baik (Nasution, 1979;10).
(hasanah Hasyim: 2013, 4)

B. Ruang Lingkup Ajaran Islam dan Studi Islam

Secara umum ruang lingkup ajaran islam berkaitan dengan pola hubungan ketuhanan dan kemanusiaan yang dimiliki oleh manusia. Pola hubungan itu dapat dirinci sebagai berikut.

1. Hubungan manusia dengan sang khalik (Allah Swt.)
Hubungan manusia dengan Allah merupakan hubungan vertikal sebagai bentuk penghambaan dan kepatuhan terhadap segala ketentuan yang digariskan oleh Allah. Seperti firman Allah dalam Q.S. 51:5

Artinya : “tidaklah aku ciptakan jin dan manusia melainkan untk supaya mereka menyebah-Ku”.

Hubungan ini disebut dengan pengabdian atau ibadah.
Pengabdian manusia bukan untuk kepentingan dan hajat Allah, melainkan bertujuan untuk mengembalikan manusia kepada asal penciptanya, mencapai fitrah (kesucian) sehingga kehidupannya di ridai dan mendaptkan berkah dari Allah.

2. Hubungan manusia dengan manusia
Hubungan manusia dengan manusia merpakan salah satu fitrah insaniah yang dimiliki oleh manusia itu sendiri. Hal ini dikarenakan manusia hidup didunia bukan hanya sebagai manusia individual, melainkan makhluk sosial yang selalu mengarahkan dirinya kepada orang lain, khususnya dalam memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya. selama memliki konsep dasar mengenai hubungan ini dalam bigkai kekeluargaan, kemasyarakatan, kenegaraan dan lain-lainnya.

Konsep ini memberikan landasan dan acuan bagi manusia untuk menjalin hubungan yang baik dengan manusia lainnya sebagai wujud eksistensinya kemanusiaan dan gambaran mengenai ajaran kemasyarakatan, baik yang berbentuk nilai, moral, etika maupun norma sosial. Q.S. 5:2 menjelaskan bahwa antara manusia satu dengan yang lainnya diperintahkan untuk saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa, serta melarang tolong menolong dalam dosa dan permusuhan.

Selain itu hubungan sosial yang dibina umat manusia memberikan kerangka acuan dalam mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan hidup,rasa aman, tentram dan bahagia.

3. Hubungan manusia dengan makhluk ciptaan Allah/lingkungannya
Allah menciptakan seluruh dunia beserta isinya mengandung pengertian yang begitu dalam bagi manusia, khususnya mengandung manfaat. Hal ini dikarenakan alam beserta isinya dapat dijadikan sebagai sarana pemenuhankebutuhan hidup manusia.

Manusia diberikan wewenang untuk memanfaatkan alam, manusia juga memiliki kewajiban untuk mengelola alam dan lingkungan dengan baik, menjaga, merawat bertanggung jawab terhadap ciptaan Allah. Manusia diberi akal sebagai salah satu kelebihan untuk menjadi khalifah yaitu pengganti Allah dimuka bumi, namun manusia tetap harus taat, patuh dan tunduk pada ketentuan Allah. (hasanah Hasyim: 2013, 24-26)

C. Signifikasi Studi Islam

Dari segi tingkatan kebudayaan, agama merupakan universal cultural. Salah satu prinsip teori fungsional menytkan bahwa segala sesuatu yang tidak berfungsi akan lenyap dengan sendirinya. Karena sejak dulu hingga sekarang agama dengan tangguh menyatakan eksistensinya, berarti ia mempunyai dan memerankan sejumlah peran dan fungsi di masyarakat (Djamari,1993:79). Oleh karena itu, secara umum, studi islam menjadi penting karena agama, termasuk islam, memerankan sejumlah peran dan fungsi masyarakat.

Dalam pengantar simposium nasional yang diselenggarakan oleh Forum Komunikasi Mahasiswa Pascasarjana (FKMP) IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, tanggal 6 Agustus 1998 di pusat pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM), Harun Nasution (1998: 1) mengatakan bahwa persoalan yang menangkut usaha perbaikan pemahaman dan penghayatan agama-terutama dari sisi etika dan moralitasnya-kurang mendapat tempat yang memadai.

Situasi keberagamaan di Indonesia cenderung menampilkan kondisi keberagamaan yang legalistik-formalistik. Agam “harus” dimanifestasikan dalam bentuk ritual-formal, sehingga muncul formalisme keagamaan yang lebih mementingkan “bentuk” daripada “isi”. Kondisi seperti itu menyebabkan agama kurang dipahami sebagai seperangkat paradigma moral dan etika yang bertujuan membebaskan manusia dari kebodohan, keterbelakangan, dan kemiskinan. Disamping itu, formlisme gejala keagamaan yang cenderung individualistik daripada kesalehan sosial mengakibatkan munculnya sikap kontra produktif seperti nepotisme, kolusi, dan korupsi (Harun Nasution, 1998: 1-2).

Harun Nasution (1998: 2-3)berpandangan bahwa orang yang bertaqwa adalah oran yang melaksanakan perintah Tuhan dan menjauhi cegahan-Nya. Dengan demikian, orang yang bertaqwa adalah orang yang dekat dengan Tuhan; dan yang dekatdengan Yang Maha Suci adalah “suci”; orang-orang yang sucilah yang mempunyai moral yang tinggi.

Gambaran yang dikemukakan oleh Harun Nasution diatas mendapat sambutan cukup serius dari Masdar F. Mas’udi. Masdar sebagi umat islam di indonesia, adalah mengabaikan agama sebagai makhluk yang relevan bagi kehidupan manusia sebagai makhluk yang bermatabat dan berakal budi. Karena itulah, kita tersentak ketika temuan memperlihatkan kepada dunia sesuatu yang sangat ironi: negara Indonesia yang penduduknya 100% beragama, mayoritas beragama Islam (sekitar 90%), dan para penjabatnya rajin merayakan hari-hari besar agama, ternyata menduduki peringkat terkemuka di antara negara-negara yang paling korup di dunia.

Dari gambaran umat Islam Indonesia di atas, kita dapat mengetahui bahwa agama Islam di Indonesia belum sepenuhnya dipahami dan dihayati oleh umat Islam. Oleh karena itu, signifikasi studi Islam di indonesia adalah mengubah pemahaman dan penghayatan keislaman masyarakat beragama pada umumnya. Adapun perubahan yang diharapkan adalah format formalisme keagamaan Islam di ubah menjadi format agam yang substantif. Sikap enklusivisme, kita ubah menjadi sikap universalisme, yakni agamyang tidak mengabaikan nilai-nilai spiritualitas dan kemanusiaan karena pada dasarnya agama diwahyukan untuk manusia.

Disamping itu, studi islam diharapkan dapat melahirkan suatu komunitas yang mampu melakukan perbaikan secara intern dan ekstern. Secar intern, komunitas itu diharapkan dapat mempertemukan dan mencari jalan keluar dan konflik intra-agama Islam; tampaknya, konflik internal uamat ilam yang didasari dengan organisasi formal keagamaan belum sepenuhnya final. Disamping itu, akhir-akhir ini kita dihadpkan pad krisis nasional –salah stunya krisis kerukunan umat beragama: pembakaran gereja di Ketapang Jakarta dan Banjarsari Ciamis, pembakaran mesjid di Ambon, serta persoalan-persoalan lainnya. Studi Islam diharapkan melahirkan suatu masyarakat yang siap hidup toleran (tasamuh) dalam wacana pluralitas agama, sehingga tidak melahirkan muslim ekstrem yang membalasan kekerasan agama dengan kekerasan pula: pembakaran mesjid dibalas dengan pembakaran gereja. Oleh karena itu, dalam situasi hidup keberagamaan di indonesia, studi agama- terutama Islam, karena merupakan agama yang dianut oleh mayoritas penduduk-sangat penting dilakukan.(Drs. Atang Abd.Hakim, M.A: 2011, 7-8)

D. Kesempurnaan Ajaran Islam

Islam merupakan penyempurna ajaran terdahulu. Oleh sebab itu islam hadir tidak hanya sekedar menjadi agama terakhir, melainkan agama yang mampu memberikan konsep yang komprehensif bagi segala aspek kehidupan. kesempurnaan islam dapat dilihat dari aspek doktrinasi,ajaran,sumbernya,manhaj,materinya,serta seluruh aspek kehidupan yang menyertainya.

Dijelaskan, islam tidak hanya sempurna dari aspek doktrinasi dan materi ajaran nya akidah islamiyahnya, melainkan juga sempurna pada aspek syariat atau peraturan perundang-undangannya, selain itu dalam menata perilaku kehidupan umat, islam juga memiliki kesempurnaan dalam menetapkan akhlak yaitu pola hubungan, tata nilai watak perilaku kemanusiaan, sehingga terbina hubungan yang harmonis antara manusia dengan tuhan dan alam semesta. Islam sempurna dalam hukumnya (yazid, 2010:21). Keberadaan sumber hukum Alquran meiliki keistimewaan tersendiri dari sumber hukum yang lain. Alquran memuat konsep kehidupan yang jelas, lugas, konseptual dan terperinci, mulai dari awal peciptaan manusia, hal ihwal peribadahan, pola hubungan kemanusiaan dan ketuhanan, hingga masalah kehidupan akhlak,etika.

Dalam hal manhaj, atau metode yang digunakan dalam memahami agama, islam memiliki metode yang jelas dan koprehensif, dapat dipertanggung jawabkan dan teruji secara empiris.berbagai metode kembangkan dalam rangka mendapatkan alternatif pemecahan masalah yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan umat. Oleh karena itu kesempurnaan ajaran islam tidak dapat diragukan lagi.

Menurut Ahmad Mubarok dan Harun Nasution pilar kesempurnaan islam terdiri daritiga hal yaitu:
1. Syumuliyatul minhaj
Islam sebagai ajaran agama didalamnya mencakup dimensi seluruh sistem dan seluruh kehidupan. Artinya islam bukan hanya masuk dalam dimensi tauhid berupa akidah, melainkan syariat, akhlak dan lain sebagainya, islam tidak hanya memberi acuan sistem ketuhanan, melainkan juga mengatur sistem pemerintahan, ketahanan,pangan, kesejahteraan, dan lain sebagainya. Dalam bidang kehidupan islam tidak hanya fokus pada masalah ibadah melainkan juga masalah sosial, kesehatan, pendidikan, ekonomi dan lain sebagainya.

2. Syumuli yaitu zaman
Islam merupakan ajaran yang seluruh aspek didalamnya termasuk seluruh kehidupan berlaku sepanjang zaman,baik zaman kasik, zaman modern hingga zaman post modern dan zaman maju.

3. Syumuliyatul makan
Islam sebagai ajaran agama yang komprehesif,dalam praktinya berlaku bagi seluruh lapisan kehidupan, berlaku disemua wilayah, tempat, dari daratan tinggi sampai daratan rendah, dari benua Asia,Australia,Eropa,Afrika sampai Amerika dan wilayah lainnya. (hasanah Hasyim: 2013, 26-28)

E. Metode-Metode Studi Islam

Ada banyak metode dalam mengkaji ajaran agama islam secara holistik, baik secara kualitatif, maupu kuantitatif berdasarkan pada perkembangan metode keilmuan. Secara kualitatif metode mempelajari studi islam adalah:
1. Metode diakronis atau sosio historis(al-Manhaj al- Tarkhiyyah)
Metode diakronis atau sosiohistoris (al-Manhaj al- Tarkhiyyah) yaitu metode untuk mengetahui,memahami dan mengkaji ajaran agaama islam dari sumber aslinya (Alquran dan sunah) dengan memahami latar belakang masyarakat,sejarah,budaya dan alam pikiran yang berkembang dalam ruang dan waktu tertentu.
2. Metode sinkronik analitik (al-manhaj al-Nadhariyyahwa al-Tathbiqiyyah)
Metode singkronik analitik yaitu metode mempelajari ajaran islam yang bukan saja mengutamakan segi aplikatif praktis, melainkan juga mengedepankan talaah teoritik. Metode ini akan memberikan kemampuan analisis teoritik yang sangat berguna bagi penajaman intelektual umat islam.
3. Metode deduktifinduktif (al-manhaj al-Istimbathiyyah wa al-Istiqraiyyah)
Metode deduktif induktif yaitu metode memahami ajaran islam dengan menggunakan kaidah-kaidah secara logis dan filosofis untuk menentukan masalah-masalah yang dihadapi. Atau sebaliknya dengan melakukan analisis terhadap persoalan-persoalan tertentu yang bersifat spesifik untuk kemudian merumuskan dalam bentuk kaidah-kaidah hukum.
4. Metode empiris (al-Manhaj al-Tajhribiyyah)
Metode empiris adalah metode mempelajari ajaran islam yang dilakukan melalui proses realisasi, aktualisasi, dan internalisasi norma-norma dan kaidah-kaidah islam dalam suatu proses aplikasi sehingga menimbulkan interaksi sosial yang kemudian dapat dirumuskan dalam suatu sistem norma baru. Dengan metode ini umat islam tidak hanya memiliki kemampuan normatif-teoritis terhadap ajaran-ajaran islam, melainkan ia akan mendapatkan pemahaman yang aplikatif dan membumi yang bersentuhan dengan realitas problem sosial yang dihadapi oleh masyarakat.
5. Metode problem solving (al-Manhaj Halli al-Musykilat)
Metode problem solving yaitu metode mempelajari ajaran islam dengan cara mencari, merumuskan dan memecahkan berbagai masalah yang terjadi di tenggah masyarakat berdasarkan terapi islam. metode ini lebih menekankan pada penguasaan keterampilan problem solving sehingga sifatnya sangat mekanistis. (hasanah Hasyim: 2013, 66-68)

F. Pendekatan Studi Islam
Pendekatan bisa diartikan sebagai cara pandang. Pendekatan juga diartikan sebagai paradigma. Pendekatan biasanya selalu melekat terdapat dalam suatu bidang ilmu, selanjutnya digunakan untuk memahami agama serta seluruh aspek yang berkaitan dengan agama.
Adapun beberapa pendekatan yang berkembang dalam keilmuan adalah:
1. pendekatan teologis-normatif
2. pendekatan historis
3. pendekatan sosiologis
4. pendekatan antropologis
5. pendektan psikologis
6. pendekatan filosofis
7. pendektan feminis
8. pendekatan fenomenologis
(hasanah Hasyim: 2013, 77-84)

 

Catatan

  1. Lumayan menjelaskan
  2. Referensi belum ada
  3. Plagiasi 8%

 

NAMA : ALIF WULAN TRISNA
KELAS : B SEMESTER 1
PRODI : S1 PBS
NPM :1602100082
TUGAS : UTS
CANGKUPAN STUDI ISLAM

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

2 thoughts on “Cakupan Studi Islam”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *