Agama Arab pra-Islam

Nama :Rizal kurniawan
Npm :1602100178
Prodi :S1 PERBANKAN syari’ah

AGAMA ARAB PRA ISLAM

Mayoritas penduduk Jazirah Arab di masa Jahiliyah menyembah berhala, sedangkan minoritas di antara mereka ada orang Yahudi di Yatsrib, orang Kristen Najran di Arabia Selatan dan sedikit yang beragama Hanif di Makkah. Agama berhala dibawa pertama kali dari Syam ke Makkah oleh ‘Amru bin Luhay, dan diterima sebagai agama baru oleh Bani Khuza’ah, satu keturunan dengan ‘Amru, di saat itu pemegang kendali Ka’bah. Kemudian agama berhala ini berkembang pesat sehingga menjadi agama mayoritas penduduk kota Makkah. Setiap kabilah mempunyai berhala sendiri. Jenis dan bentuk berhala bermacam-macam, tergantung pada persepsi mereka tentang tuhannya. Berhala-berhala tersebut dipusatkan mereka di Ka’bah. Orang Quraisy sebagai penguasa terakhir untuk Ka’bah memiliki beberapa berhala, yang terbesar di antaranya adalah Hubal. Tercatat, bahwa Hubal adalah patung yang paling diagungkan. Terbuat dari batu aqiq berwarna merah dan berbentuk manusia (Nasution: 2013, 15-16).

Tiga berhala terkenal yang lainnya adalah al-Lãta terletak di Thaif, al-‘Uzza bertempat Nakhlah sebelah timur Makkah, kedudukannya terbesar kedua di bawah Hubal, dan al-Manãta bertempat di Yatsrib, lebih popular di kalangan suku Aus dan Khazraj. Ketiga berhala ini disebut namanya dalam al-Qur’an surah al-Najm : (19-23). Berhala-berhala itu mereka jadikan tempat menanyakan dan mengetahui nasibbaik dan nasib buruk. Dengan demikian, Ka’bah yang dibangun Nabi Ibrahim dan anaknya Isma’il menjadi berubah fungsi, dulu sebagai tempat beribadah bagi agama hanif, kini orang Arab dari berbagai penjuru setiap tahun datang berkunjung ke Makkah, seperti yang diajarkan Nabi Ibrahim, tetapi untuk menyembah berhala yang mereka tempatkan di situ. Agama Yahudi dibawa masuk ke semenanjung Arabia oleh orang Israel dari Palestina. Mereka menetap di Yaman, Khaibar dan Yatsrib. Karena pengaruh merekalah orang-orang Arab, suku Aus dan Khazraj bergegas masuk Islam menyongsong Nabi ke Makkah. Sebab antara mereka selalu terjadi percekcokan dan perselisihan. Agama Kristen dianut suku-suku yang terdapat di sebelah utara Jazirah Arab yang dikembangkan pendetapendeta kerajaan Bizantium. Di Yaman, sebelah selatan Jazirah Arab terutama Najran terdapat penduduk Arab beragama Kristen. Agama Kristen di sebelah selatan ini datang dari kerajaan Habsyi (Ethiopia) (Nasution: 2013, 16).

Sementara itu, terdapat perorangan yang meninggalkan penyembahan berhala serta kebiasaan jahiliyah lainnya, serta percaya akan adanya Tuhan Yang Maha Esa serta hari berbangkit. Di antaranya Waraqah ibn Nanfal, seorang tua yang hafal Injil, yang percaya bahwa Muhammad adalah Nabi yang disebut dalam kitab suci itu. Di kalangan orang Badwi, mereka menyembah pohon, bulan dan bintang, sebab menurut mereka kehidupan mereka diatur oleh bulan dan bintang bukan matahari, bahkan matahari menurut mereka merusak tanaman dan ternak mereka (Nasution: 2013, 17).
Setelah kerajaan Himyar jatuh, jalur-jalur perdagangan didominasi oleh kerajaan Romawi dan Persia. Pusat perdagangan bangsa Arab serentak kemudian beralih ke daerah Hijaz. Makkah pun menjadi masyhur dan disegani. Begitu pula suku Quraisy. Kondisi ini membawa dampak positif bagi mereka, perdagangan menjadi semakin maju. Melalui jalur perdagangan, bangsa Arab berhubungan dengan bangsa-bangsa Syiria, Persia, Habsyi, Mesir (Qibthi), dan Romawi yang semuanya telah mendapat pengaruh dari kebudayaan Hellenisme. Penganut agama Yahudi juga banyak mendirikan koloni di jazirah Arab, yang terpenting di antaranya adalah Yatsrib. Mayoritas penganut agama Yahudi tersebut pandai bercocok tanam dan membuat alat-alat dari besi, seperti perhiasan dan persenjataan. Walaupun agama Yahudi dan Kristen sudah masuk ke jazirah Arab, bangsa Arab kebanyakan masih menganut agama asli mereka, yaitu percaya kepada banyak dewa yang diwujudkan dalam bentuk berhala dan patung. Setiap kabilah mempunyai berhala sendiri. Berhala-berhala tersebut dipusatkan di Ka’bah, meskipun di tempat-tempat lain juga ada. Berhala-berhala itu mereka jadikan tempat menanyakan dan mengetahui nasib baik dan nasib buruk. Demikianlah keadaan bangsa dan jazirah Arab menjelang kebangkitan Islam.(Yatim:2011,14-15)

Bangsa Arab juga menganggap bahwa malaikatlah yang menghidupkan, mematikan, dan menguasai segala gerak kehidupan manusia, bahkan ada yang percaya bahwa malaikat adalah keturunan Tuhan, karena itulah mereka menyembah malaikat, mereka juga menganggap bahwa jin, roh, dan hantu adalah katurunan langsung dari malaikat dan Tuhan. Karena itu mereka mengadakan sesaji pada tempat-tempat yang dianggap tempat jin, ruh, dan hantu. Dan di sanalah orang-orang menyembahnya. Kecuali itu ada juga yang menyembah setan atau yang disebut ifrid.

Mereka menyembah bintang, bulan, matahari, karena mereka menganggap bahwa semua benda-benda alam tersebut mempunyai kekuasaan untuk menentukan aturan-aturan jalannya seluruh alam ini.

Pada masa sebelum islam, orang-orang arab banyak percaya pada tahayul, diantaranya tahayul mereka itu ialah:

1. Di dalam setiap perut orang ada ular, perasaan lapar timbul karena ular menggigit usus manusia.
2. Mereka biasa mengenakan cincin dari tembaga atau besi, dengan keyakinan untuk menambah kekuatan.
3. Bila mengharap turun hujan, mereka mengikat rumput kering pada ekor kambing(guru PAI. 2008,4)

Daftar pustaka
Dr. H. Syamruddin Nasution. M.Ag. 2013,Sejarah peradapan islam, Riau.2013.
Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2011.
Musyawarah guru PAI. 2008. Modul Hikmah Membina Kreatifitas dan Prestasi. Akik Pustaka

 

Catatan

  1. Tema dan konten sudah masuk.
  2. Tapi plagiasi tercatat 51%
  3. Buku ini tidak dikutip ya?
  4. Musyawarah guru PAI. 2008. Modul Hikmah Membina Kreatifitas dan Prestasi. Akik Pustaka

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *