Sifat Dasar Ajaran Islam

Islam adalah sebuah agama yang di turunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul terakhir untuk menjadi petunjuk atau pedoman hidup bagi seluruh manusia sampai akhir zaman. Islam adalah agama yang mengajarkan kepada pemeluk-Nya untuk menyebarkan benih perdamaian, keamanan, dan keselamatan, untuk diri sendiri, sesama manusia, dan kepada lingkungan sekitarnya, atau biasa disebut rohmatan lil ‘alamin. (Mahfudz, 2011: 4). Kedamaian, keamanan, dan keselamatan ini dapat di peroleh jika setiap muslim taat dan patuh pada perintah Allah, dan menjauhi segala larangan Allah.

Menurut Harun Nasution, sebagai agama universal, Islam mengandung ajaran-ajaran dasar yang berlaku untuk semua tempat dan untuk semua zaman. Ajaran-ajaran dasar yang bersifat universal, mutlak benar, kekal,tidak pernah berubah dan tidak boleh dirubah jumlahnya menurut para ulama’ hanya kurang lebih 500 ayat atau kurang lebih 14% dari seluruh ayat Al-quran. (Harun Nasution, 2000: 33). Ajaran dasar yang bersifat universal dan tetap itu biasanya di kenal dengan ajaran yang pasti (qat’iy). Ajaran ini mencakup tiga bentuk ajaran, yakni (1) ajaran qat’iy al-wurud, yaitu ajaran yang pasti sumber ke datangannya, baik dari Allah berupa ayat-ayat Al-quran maupun dari Nabi berupa hadist mutawatir, (2) qat’iy al-dalalah, yaitu ajaran yang pasti maknanya karena suatu teks (nash) hanya memiliki satu arti, baik dari ayat Al-quran maupun hadist mutawatir. Ajaran dalam bentuk ini sangatlah sedikit, dan biasanya mengenai kata yang menunjuk kepada bilangan, dan (3) qat’iy al-tanfiz, yaitu ajaran yang pasti di berlakukan, dan bila tidak di laksanakan, maka seseorang tergolong melakukan pelanggaran seperti aqimu al-salah wa atu at-zakah. (Harun Nasution, 1986: 34).

Nash qat’iy al-wurud yaitu nash yang dari segi turunnya, ketetapannya, dan penukilannya secara jelas dan pasti. Seperti Al-quran bersifat qat’iy al-wurud. Karena Al-quran diturunkan langsung oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, dan kemudian di sampaikan kepada umat manusia tanpa mengalami perubahan. Begitupun dengan hadist yang disampaikan secara mutawatir (terus menerus) mulai dari Nabi, sahabat, thabii, thabiin, ulama’, baru sampai ke kita.

Nash yang qat’iy al-dalalah adalah nash yang menunjukkan adanya makna, yang dapat dipahami dengan pemahaman tertentu, atau tidak mungkin menerima adanya ta’wil, atau tidak ada arti lain selain pemahaman dari makna tersebut. Al-quran dan hadist keduanya juga mengandung pemahaman qath’iy al-dalalah, namun hanya hadist tingkat mutawatir sajalah yang penunjukannya sama dengan Al-quran. Sedangkan hadist yang dibawah tingkat mutawatir termasuk kelompok zanniy al-dalalah.

Sifat dasar ajaran islam yang ke tiga yaitu qat’iy al-tanfiz, yaitu ajaran yang harus diberlakukan. Dan bila tidak dilaksanakan, maka seorang muslim tersebut berdosa. Contoh Qat’iy al-tanfiz adalah ibadah, seperti shalat. Shalat adalah ucapan-ucapan dan gerakan-gerakan yang dimulai dari takbiratul ikhram dan di akhiri salam dengan syarat-syarat dan gerakan tertentu. Shalat merupakan pokok ibadah dalam agama islam, bahkan tiang agama (imad addin). (Mahfud, 2011: 25). Maka dari itu, kita sebagai umat muslim diwajibkan untuk melaksanakan shalat selama akal kita masih sehat, bagaimanapun kondisinya. Ibadah yang lain misalnya zakat. Zakat adalah ibadat yang bertalian dengan harta benda. Agama Islam menuntut supaya orang yang mampu menolong rakyat miskin dalam memenuhi ekonomi nya yang kekurangan, dan juga untuk melaksanakan kepentingan umum. Zakat itu wajib di keluarkan bagi orang yang mampu, dari kekayaan nya yang berlebihan, dari kepentingan dirinya dan kepentingan orang-orang yang jadi tanggungannya.(Fachruddin, 1984: 94).

Ibadah yang lain seperti puasa. Puasa adalah menahan makan dan minum, serta segala yang membatalkannya sejak terbit fajar sampai terbenam matahari. Ibadah puasa hukumnya ada yang wajib dan juga ada yang sunnah. Adapun puasa yang wajib adalah puasa selama sebulan penuh pada bulan suci Ramadhan, dan juga puasa nadzar. Sedangkan, puasa yang hukumnya sunnag, yaitu puasa hari Senin Kamis, puasa selang sehari, puasa enam hari pada bulan syawal, dan sebagainya.(Rois, 2011: 28). Hikmah menjalankan ibadah puasa adalah, puasa merupakan proses pendidikan dan latihan yang intensif, menguji kekuatan iman, dan sekaligus mengendalikan hawa nafsu.

Jadi, sifat dasar ajaran islam itu ada tiga, pertama yaitu qat’iy al-wurud, kedua qat’iy al-dalalah, dan yang ketiga yaitu qat’iy al-tanfiz. Kita sebagai umat muslim semestinya mengetahui dan memahami apa saja sifat dasar agama Islam. Wajib kita sebagai umat muslim, bisa memilah dan memilih ajaran ajaran yang harus kita laksanakan dan ajaran yang harus kita tinggalkan, karena tidak sesuai dengan syariat yang diperintahkan Allah SWT. Semoga kita semua bisa menjadi muslim yang istiqomah dalam mengerjakan segala ibadah yang diperintahkan Allah, senantisa di jalan kebenaran, dan mendapat Ridho dari Allah SWT. Aamiin Yarobbal Alamiin.

ANDESTA SUSANTI
1602100005
Mahasiswi Semester 1 Prodi Perbankan Syariah Kelas A IAIN METRO.

DAFTAR PUSTAKA

Mahfud,Rois. 2010. Pendidikan Agama Islam. Palangkaraya: Erlangga
Nasution, Harun. 2000. Islam Rasional Gagasan dan Pemikiran. Bandung: Mizan.
–. 1986. Akal dan Wahyu dalam Islam. Jakarta: UI Press

 

Catatan

  1. Sudah menjawab pertanyaan.
  2. Hanya 4% plagiasi

Yang Tak Kalah Menarik

Written by 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *